17 Tahun TransJakarta, dari Konsep Bogota Sampai BRT Khas “Jakarte”

0

Tak terasa, 17 tahun sudah PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) melayani warga ibukota Jakarta dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT). BRT yang mulai meluncur di jalanan Jakarta sejak 15 Januari 2004 lalu menjadi yang pertama di Asia Tenggara dan Selatan. Kehadiran sistemnya ini didesain berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia.

Baca juga: TransMilenio, BRT dari Bogota yang Menjadi Benchmark TransJakarta

Saat ini TransJakarta memiliki 243 halte dan tersebar di 14 koridor. Nah bagaimana dengan sistem BRT yang kini dipimpin oleh Sardjono Johnny Tjitrokusumo tersebut? Pada tahun 2017 lalu, Transjakarta memiliki sistem BRT terpanjang di dunia yakni 240,9 km dengan 13 koridor utama serta sepuluh rute lintas koridor.

Selain itu ada pula 18 rute pengumpan yang terus melewati akhir busway eksklusif ke kota-kota di sekitar Jakarta dan menggunakan bus khusus yang memungkinkan untuk naik dari halte TrasnJakarta. Adapun yang menarik adalah pada 10 November 2014, TransJakarta meluncurkan logo baru berupa lingkaran berwarna biru tua dengan dua garis diagonal berwarna putih.

Selain perubahan warna, huruf J juga memiliki kaki lebih panjang ke bagian bawah kata Trans dengan gradasi warna biru tua ke biru muda. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, armada yang digunakan oleh TransJakarta cukup beragam, seperti Hino, Scania, Foton, Mercedes-Benz, Zhongthong, Volvo dan PT INKA Inobus.

Tak hanya bus dengan lantai tinggi yang mana penumpang harus naik dari halte, ada juga bus dengan lantai rendah dan pertama kali digunakan pada ajang Asian Games 2018 lalu. Selain itu lantai rendah digunakan seiring revitalisasi halte BRT, trotoar dan bus kota Jakarta agar lebih ramah pada penyandang disabilitas.

BRT milik TransJakarta ini biasanya beroperasi pukul 05.00 hingga 22.00 WIB dan ada juga yang beroperasi 24. Seiring berjalannya waktu, TransJakarta kemudian menghadirkan berbagai hal baru untuk layanan bus, halte maupun fasilitas di halte.

Bahkan berbagai tipe layanan pun juga dirambah oleh TransJakarta di mana pada 12 Maret 2018, menghadirkan layanan RoyalTrans. Ini adalah program TeansJabodetabek Premium yang dijalankan oleh Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ).

Bus ini melaju di jalur bus angkutan umum dan berbeda dari bus TransJakarta lainnya yakni bila bus biasa bertarif Rp3500, RoyalTrans cukup mahal yakni Rp20 ribu sekali jalan. Meski begitu, penumpang diberi kenyamanan dengan fasilitas WiFi, pengisi daya USB, televisi, tempat botol minum disetiap kursi, kursi yang bisa diatur sesuai keinginan (reclining seat) dan tidak ada penumpang yang berdiri.

Adapula MetroTrans yang mana penumpang akan naik bukan dari halte BRT melainkan pinggir jalan dengan papan bergambar bus bertuliskan “STOP, bus pengumpan TransJakarta”. Sehingga penumpang hanya akan diizinkan naik dan turun pada titik dengan papan tersebut. Ini pula berlaku untuk MiniTrans yang menggantikan MetroMini dan Kopaja.

Pada 2016 TransJakarta juga meluncurkan bus gratis dengan rute Bundaran Senayan-Harmoni PP untuk warga Jakarta yang terkena imbas pelarangan sepeda motor di Jalan MH Thamrin. Bus tersebut melaju di jalur reguler bukan di jalur BRT.  Kemudian layanan gratis lainnya mulai 22 Desember 2017 yang bernama Tanah Abang Explorer dan hanya mengitari daerah Tanah Abang.

Kemudian 3 April 2017, PT TransJakarta bekerja sama dengan Koperasi Wahana Kalpika (KWK) untuk menyediakan angkutan lingkungan yang terintegrasi dengan halte TransJakarta. Namun layanan tersebut resmi berakhir pada 31 Desember 2017 dan layanan bus kecil terintegrasi dengan OK Otrip.

Namun pada 8 Oktober 2018, OK Otrip berganti nama menjadi JakLingko yang mana angkutan MikroTrans ini juga terintegrasi dengan halte BRT TransJakarta. Pada awal pengoperasiannya, TransJakarta masih menggunakan tiket kertas, namun sejak 2013 lalu, semua pembayaran dilakukan dengan kartu uang elektronik untung menggantikan pembuatan tunai.

Hampir semua kartu uang elektronik dari berbagai Bank bisa digunakan untuk pembayaran tiket TransJakarta. Kemudian TransJakarta pada tahun 2020 memulai pembayaran dengan menggunakan pemindaian QR Code yang bisa didapatkan melalui aplikasi Tijeku.

Baca juga: LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Di mana penumpang bisa langsung membeli tiket melalui aplikasi bila tidak membawa kartu uang elektronik. Selain itu, ada juga bus listrik yang mulai beroperasi dan menutup tahun 2020, TransJakarta memberikan fasilitas WiFi tak berbayar yang sudah tersebar di seluruh halte di 13 koridor yang ada. Sehingga, penumpang yang menunggu bus tujuan mereka bisa berselancar di media sosial atau melakukan aktivitas online lainnya.

Leave a Reply