Thursday, February 22, 2024
HomeAnalisa Angkutan2023 Pesawat Falcon 50 Berbahan Bakar Amonia Terbang Perdana, Tantang Pesawat Hidrogen...

2023 Pesawat Falcon 50 Berbahan Bakar Amonia Terbang Perdana, Tantang Pesawat Hidrogen Airbus?

Harga Avtur mahal di masa mendatang mungkin tak akan jadi masalah. Sebab, pesawat lambat laun akan beralih ke bahan bakar ramah lingkungan. Salah satunya amonia. Startup dirgantara asal Australia, Aviation H2, menargetkan tahun 2023 pesawat Dassault Falcon 50 berbahan bakar amonia terbang perdana.

Baca juga: Begini Wujud Helikopter Hidrogen Berawak Pertama di Dunia

Sebelum Aviation H2 mengumumkan pesawat berbahan amonia bakal terbang perdana pada tahun 2023, pamor amonia, salah satu senyawa kimia yang membentuk amonium nitrat, tidak begitu terdengar sampai akhirnya muncul ke permukaan dan dikenal banyak orang awam pasca ledakan besar di Beirut, Lebanon, pada tahun 2020 silam.

Tak lama setelahnya, amonia dikabarkan bakal jadi alternatif bahan bakar penerbangan pengganti Avtur. Ini terjadi usai Reaction Engines dan Britain’s Science and Technology Facilities Council (STFC) sukses menyelesaikan studi tentang penggunaan amonia sebagai bahan bakar alternatif pengganti fosil.

Studi tersebut dilakukan dengan menggabungkan heat exchanger technology atau teknologi penukar panas Reaction Engines dengan katalis (zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu) canggih STFC. Rumusan tersebut diharapkan dapat menghasilkan sistem propulsi bebas emisi yang ramah lingkungan untuk digunakan pesawat di masa mendatang.

Dilansir New Atlas, Direktur Aviation H2, Christof Mayer, mengungkapkan pihaknya sepakat bahwa hidrogen cair adalah pilihan terbaik dalam upaya menciptakan keberlanjutan di dunia penerbangan. Hanya saja, terdapat pilihan sulit di balik itu. Hidrogen cair membutuhkan tangki penyimpanan yang besar dan berat. Ini pada akhirnya akan mempengarughi bobot dan ukuran pesawat itu sendiri.

Karenanya, Mayer dan saudaranya, Helmut Mayer, beralih ke amonia, yang merupakan campuran dari hidrogen dan atmospheric nitrogen.

“Gas hidrogen sangat ringan untuk energi yang dimilikinya dan hidrogen cair adalah bentuk yang lebih kompak,” jelas Christof Mayer.

Baca juga: Airbus Gandeng CFM Internasional, Uji Coba Mesin Berbahan Bakar Hidrogen di Pesawat A380

“Tapi tangkinya besar dan berat. Kami tentu saja tidak mengabaikan hidrogen cair atau bentuk hidrogen lainnya sebagai opsi. Kami tidak mematikannya. Kami hanya menggunakan amonia untuk saat ini. Ini adalah konversi paling sederhana, dan itu secara intrinsik akan menjadikannya yang paling dapat diandalkan, dan itu sendiri membuatnya secara intrinsik paling aman,” tambahnya.

Selain lebih efektif karena tidak membutuhkan tangki bahan bakar nitrogen yang besar dan berat, pengoperasian juga akan jauh lebih cepat dan murah karena tetap bisa memakai mesin turbofan, tidak seperti sel bahan bakar hidrogen yang harus menggantinya dengan motor listrik.

Meski begitu, lanjut Mayer, berbagai komponen seperti sistem penyimpanan bahan bakar kontrol mesin, dan mesin itu sendiri tetap butuh penyesuaian.

Baca juga: Alasan Boeing Pesimis Hidrogen Sebagai Bahan Bakar: Tangki Bahan Bakar Lebih Besar dari Kabin

“Kita perlu memodifikasi sistem penyimpanan bahan bakar menjadi sesuatu yang pada dasarnya mirip dengan tangki LPG,” ujarnya.

“Jadi penyimpanan bahan bakar, kontrol mesin, dan mesin, itu adalah item tiket besar yang perlu kami kembangkan. Tapi kami tidak benar-benar mengubah desain mesin sama sekali secara fisik,” tutupnya.

Akan tetapi, tim Aviation H2 masih mempunyai pekerjaan rumah besar. Disebutkan, amonia akan megeluarkan oksida nitrat yang berbahaya bagi lingkungan dan ini masih terus dicari solusinya.

Bila tak ada aral melintang, pertengahan tahun 2023, Avation H2, bersama maskapai asal Swedia, Falcon Air, dan produsen pesawat jet bisnis, Dassault Avation, akan menerbangkan Falcon 50 pertama berbahan dasar amonia.

Pesawat tersebut ditargetkan mampu terbang di udara selama satu jam. Hanya saja, dari tiga mesin pesawat Falcon 50, tidak seluruhnya bekerja dengan bahan bakar amonia, melainkan hanya salah satunya saja.

Baca juga: “Elon Musk” Rusia Kembangkan Drone Kargo Bertenaga Hidrogen, Bisa Melesat Sampai Mach 15

Bila ini berhasil, langkah selanjutnya yang bakal ditempuh Aviation H2 adalah go public di bursa saham untuk mengumpulkan dana dan mempatenkan, mensertifikasi, dan mengkomersialisasi powertrain amonia atau mesin jet berbahan bakar amonia sebagai sebauh produk.

Selain Aviation H2, ada banyak perusahaan lain yang turut mengembangkan amonia sebagai alternatif bahan bakar penerbangan ramah lingkungan di masa depan, seperti UK Reaction Engines, SABRE, University of Central Florida bekerjasama dengan Boeing, General Electric, serta mitra lainnya yang didanai oleh NASA.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru