9 Februari 1969, Memperingati 50 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

Boeing 747 perdana, lepas landas dari Paine Field di Everett. (Foto: heraldnet.com)

Sabtu, 9 Februari 2019, menjadi hari yang selalu dikenang oleh karyawan Boeing dan khususnya pecinta dirgantara di seluruh dunia, pasalnya Sabtu lalu, menjadi momen tepat 50 tahun eksistensi pesawat jumbo jet Boeing 747. Bertolak dari Paine Field di Everett, Negara Bagian Washington, pada 9 Februari 1969 untuk pertama kalinya Boeing 747 mengangkasa. Penerbangan perdana selama 75 menit saat itu sontak mengubah tatatan transportasi udara, terutama pada layanan penerbangan jarak jauh.

Baca juga: Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya

Bagi Boeing, proyek 747 merupakan pertaruhan, lantaran laba bersih perusahaan kala itu telah dicurahkan pada pengembangan jumbo jet ini. Risikonya tidak main-main, bila debut 747 perdana gagal, maka perusahaan yang didirikan oleh William E Boeing ini terancam bangkrut. Dikutip dari heraldnet.com (8/2/2019), Boeing 747 perdana yang diberi label “City of Everett” ini dibangun dari 4,5 juta bagian, dan bobot pesawat dalam uji terbang perdana mencapai 163 ton. Karena merupakan momen bersejarah, dalam penerbangan perdana Sang “Queen of the Skies” ini mendapat kawalan dari jet tempur F-86 Sabre.

Meski kini debutnya telah memudar sebagai pesawat penumpang, namun kiprah Boeing 747 masih mendapat tempat tersendiri, terutama sebagai pesawat kargo. Sejak 1969 sampai saat ini, tak kurang dari 1.500 unit 747 diproduksi di fasilitas pabrik yang berada di Everett. Desain Boeing 747 dirancang oleh Joe Sutter. Dalam bukunya, “747: Creating the World’s First Jumbo Jet and Other Adventures from a Life in Aviation,” Sutter menyebut proyek 747 melibatkan 4.500 insinyur.

Kini “City of Everett” sebagai Boeing 747 pertama di dunia, masih dapat dilihat langsung oleh public, yakni menjadi koleksi dalam Museum Penerbangan yang ada di Boeing Field, Seattle.