Kawasan Teluk kini tengah bersiap menyambut babak baru dalam integrasi regional seiring dengan bangkitnya kembali salah satu proyek infrastruktur paling ambisius di Timur Tengah. Setelah sempat terhenti selama hampir dua dekade akibat dinamika geopolitik yang kompleks, proyek konektivitas transportasi besar yang menghubungkan Uni Emirat Arab dan Qatar akhirnya menunjukkan kemajuan substansial pada Januari 2026.
Proyek ini mencakup pembangunan koridor jalan raya dua arah sepanjang 40 kilometer yang dirancang untuk menghubungkan kedua negara secara lebih langsung, sekaligus menjadi simbol rekonsiliasi diplomatik pasca-Deklarasi Al-Ula tahun 2021.
Kemajuan signifikan terlihat jelas di sisi Qatar, di mana perusahaan kereta api nasional mereka telah resmi menunjuk Egis, sebuah perusahaan konsultan teknik ternama asal Perancis, untuk memimpin layanan konsultasi teknik bagi proyek konektivitas kereta api dan jalan raya lintas batas ini. Egis berhasil memenangkan kontrak strategis senilai kurang lebih US$38 juta setelah berhasil mengungguli persaingan ketat dari berbagai raksasa teknik internasional lainnya. Penunjukan ini menandai dimulainya fase desain dan perencanaan teknis yang serius untuk memastikan jalur tersebut memenuhi standar keamanan dan efisiensi global.
Sementara itu, di sisi Uni Emirat Arab, otoritas kereta api nasional tengah melakukan akselerasi pada proyek yang dikenal sebagai Western Link. Jalur ini direncanakan membentang dari pusat ekonomi Abu Dhabi menuju pulau-pulau yang berdekatan dengan wilayah perairan Qatar. Saat ini, proses perencanaan telah melibatkan partisipasi aktif dari dua konsorsium internasional besar, yakni pengembang infrastruktur dari Yunani dan China Harbour Engineering Co., Ltd., yang keduanya telah terpilih untuk masuk ke tahap perencanaan lanjutan guna mematangkan struktur jalan raya sepanjang 40 kilometer tersebut.
Menilik sejarahnya, proyek ini sebenarnya membawa misi lama yang sempat muncul ke permukaan pada tahun 2005. Rencana awal kala itu bertujuan untuk membangun rute lintas laut yang dapat menghindari wilayah daratan negara tetangga guna memperpendek waktu tempuh antar-negara secara signifikan.
Namun, visi tersebut sempat membeku total akibat ketegangan kedaulatan perairan dan krisis diplomatik regional pada tahun 2017. Baru pada masa sekarang, dengan pulihnya hubungan bilateral kedua negara, rencana pembangunan dari Ras Jumeirah di UEA menuju terminal feri di Pulau Makasib kembali dihidupkan untuk menghubungkan kedua negara melalui kombinasi layanan transportasi modern.
Dampak dari selesainya proyek ini diprediksi akan mengubah peta logistik dan ekonomi di seluruh kawasan Teluk secara permanen. Selain memangkas waktu perjalanan bagi personel dan barang antara Abu Dhabi dan Doha secara drastis, koridor ini juga memberikan alternatif jalur darat dan laut mandiri yang tidak sepenuhnya bergantung pada transit melalui pihak ketiga.
Lebih dari sekadar aspal dan beton, jalan tol ini menjadi manifestasi fisik dari integrasi blok ekonomi GCC yang semakin solid, yang mampu menyeimbangkan ambisi ekonomi masing-masing negara dengan kebutuhan kolektif akan stabilitas dan konektivitas regional.
Etihad Rail Buka Terowongan Kereta Terpanjang di Uni Emirat Arab
