Thursday, January 22, 2026
HomeAnalisa AngkutanTragedi Peron Stasiun: Mengapa Kasus Kecelakaan dan Bunuh Diri di Jalur Kereta...

Tragedi Peron Stasiun: Mengapa Kasus Kecelakaan dan Bunuh Diri di Jalur Kereta Api Masih Menghantui?

Kabar duka kembali menyelimuti transportasi publik ibu kota. Pada Rabu, 21 Januari 2026, seorang wanita berusia 18 tahun dilaporkan mengakhiri hidupnya dengan meloncat ke jalur rel saat kereta akan masuk di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. Tragedi ini menambah daftar panjang kasus serupa yang terjadi di peron kereta api, memicu diskusi publik mengenai keamanan penumpang dan perlindungan kesehatan mental di ruang publik.

Peristiwa di Gondangdia tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm keras mengenai kerentanan peron terbuka. Lantas, mengapa peron kereta api kerap menjadi lokasi kecelakaan dan aksi nekat, serta apa yang menghalangi operator untuk memasang sistem pengaman otomatis di seluruh stasiun?

Banyak faktor yang menyebabkan peron kereta api menjadi lokasi berisiko tinggi. Selain faktor psikologis seperti niat bunuh diri yang spontan akibat tekanan hidup, faktor teknis dan perilaku penumpang juga memainkan peran besar:

Kepadatan Berlebih (Overcrowding): Pada jam sibuk, peron yang sempit sering kali penuh sesak. Kurangnya ruang gerak meningkatkan risiko penumpang terdorong atau terpeleset ke celah peron.

Gangguan Konsentrasi: Penggunaan ponsel pintar dan earphone membuat penumpang kurang waspada terhadap pengumuman petugas atau kedatangan kereta.

Akses Terbuka: Tidak adanya pembatas fisik antara area tunggu dan rel memungkinkan siapa saja untuk masuk ke area berbahaya dalam hitungan detik.

Langkah paling efektif untuk mencegah kejadian ini adalah pemasangan Platform Screen Doors (PSD) atau pintu tepi peron otomatis, seperti yang sudah digunakan di MRT Jakarta. Namun, bagi operator besar seperti KAI atau KCI (Commuter Line), tantangannya sangat kompleks:

Berbeda dengan MRT yang memiliki tipe kereta seragam, Commuter Line melayani berbagai jenis rangkaian kereta dengan letak pintu yang berbeda-beda. Menyesuaikan pintu otomatis di peron agar presisi dengan setiap jenis pintu kereta adalah tantangan teknis yang sangat sulit.

Platform Screen Doors Alami Kendala, Penumpang MRT Singapura Terjebak Delay Dua Jam!

Banyak stasiun kereta di Indonesia merupakan bangunan tua yang struktur peronnya tidak dirancang untuk menahan beban berat dari sistem PSD yang terbuat dari baja dan kaca. Memasang PSD berarti harus melakukan renovasi total pada fondasi peron.

Biaya pengadaan PSD sangat tinggi, mencapai miliaran rupiah per stasiun. Selain itu, biaya pemeliharaan agar sensor tetap sinkron dengan pengereman kereta memerlukan teknologi tinggi yang terus-menerus harus diperbarui.

Untuk menggunakan PSD, kereta harus berhenti dengan akurasi sentimeter. Ini memerlukan sistem Automatic Train Operation (ATO), sementara sebagian besar kereta konvensional masih mengandalkan pengereman manual oleh masinis.

Namun, kejadian di Stasiun Gondangdia mengingatkan kita bahwa keamanan transportasi bukan hanya soal teknis, melainkan juga kepedulian sosial. Edukasi mengenai kesehatan mental dan kesadaran penumpang untuk saling menjaga di area publik tetap menjadi kunci utama di samping pembangunan infrastruktur yang lebih aman.

Waspada ‘Chikan dan Butsukariya’ – Masalah Sosial di Jaringan Kereta Komuter Jepang

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru