Cina dilaporkan semakin dekat dengan penyelesaian salah satu proyek infrastruktur paling ambisius dalam dekade ini, yaitu Kanal Pinglu. Saluran air raksasa senilai US$10 miliar (sekitar Rp157 triliun) ini dirancang untuk menghubungkan pusat-pusat ekonomi di wilayah pedalaman barat daya Cina secara langsung ke Teluk Beibu, yang merupakan gerbang menuju Laut Cina Selatan dan pasar Asia Tenggara (ASEAN).
Menurut laporan terbaru dari media pemerintah yang dikutip oleh South China Morning Post, kanal ini ditargetkan untuk mulai beroperasi penuh sebelum akhir tahun 2026.
Kanal Pinglu membentang sepanjang 134 kilometer melintasi wilayah otonomi Guangxi Zhuang, mulai dari Waduk Xijin di Nanning hingga pelabuhan Qinzhou di selatan. Pembangunan kanal ini merupakan bagian krusial dari strategi New International Land-Sea Trade Corridor milik Beijing.
Bagi Cina, proyek ini bukan sekadar saluran air, melainkan solusi logistik masif yang akan memangkas jarak pengiriman barang dari provinsi pedalaman seperti Yunnan dan Guizhou menuju laut hingga sejauh 560 kilometer dibandingkan rute tradisional melalui Pelabuhan Guangzhou.
Keunggulan utama dari Kanal Pinglu terletak pada efisiensi biaya dan waktu. Dengan memindahkan arus logistik ke jalur air yang mampu menampung kapal kargo hingga kapasitas 5.000 ton, Cina memproyeksikan penghematan biaya transportasi tahunan mencapai lebih dari 5,2 miliar yuan (sekitar US$725 juta). Selain itu, waktu tempuh pengiriman barang yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu melalui darat atau rute memutar, nantinya dapat disingkat menjadi hanya hitungan hari melalui koneksi langsung sungai-laut ini. Hal ini diharapkan akan meningkatkan daya saing produk-produk industri dari wilayah barat Cina yang selama ini tertinggal dalam hal akses ekspor.
Dari sisi teknis, pembangunan Kanal Pinglu merupakan tantangan rekayasa yang luar biasa. Proyek ini melibatkan penggalian tanah dan batuan dalam volume yang sangat besar—dikabarkan mencapai tiga kali lipat jumlah material yang dipindahkan saat membangun Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam). Kanal ini juga akan dilengkapi dengan tiga pintu air (ship locks) raksasa yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia untuk jalur air pedalaman, dirancang khusus untuk mengelola perbedaan ketinggian air dan memastikan navigasi kapal yang aman selama 24 jam.
Secara geopolitik, percepatan proyek ini menunjukkan pergeseran fokus Beijing untuk memperkuat konektivitas maritim dengan ASEAN, yang kini merupakan mitra dagang terbesar Cina.
Di tengah ketegangan perdagangan global dan upaya AS untuk membatasi pengaruh ekonomi Cina, Kanal Pinglu menjadi simbol ketahanan ekonomi Beijing dalam mengamankan rantai pasokannya. Dengan terbukanya gerbang air ini pada 2026, integrasi ekonomi antara Cina daratan dan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Vietnam, dan Malaysia, diprediksi akan memasuki babak baru yang lebih dinamis dan efisien.
