Kawasan Asia-Pasifik, yang mencakup raksasa ekonomi seperti Cina, India, hingga kekuatan regional seperti Indonesia, kini tengah bersiap menjadi pusat gravitasi baru dalam industri penerbangan global.
Berdasarkan laporan Global Services Forecast (GSF) terbaru yang dirilis oleh Airbus di Singapura, wilayah ini diprediksi akan mengalami ledakan permintaan layanan penerbangan dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 5,2%.
Angka pertumbuhan yang impresif ini diperkirakan akan membawa nilai pasar layanan di kawasan ini menyentuh angka fantastis US$138,7 miliar pada tahun 2044, sebuah lonjakan yang dipicu oleh kombinasi antara ekspansi armada pesawat dan mobilitas penduduk yang kian tinggi.
Pondasi utama dari pertumbuhan masif ini adalah kebutuhan akan sekitar 19.560 pesawat penumpang baru dalam dua dekade mendatang. Jumlah tersebut mencakup hampir separuh dari total permintaan global, yang menegaskan bahwa Asia-Pasifik akan tetap menjadi pasar perjalanan udara dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Dengan trafik penumpang yang diproyeksikan tumbuh 4,4% per tahun—jauh melampaui rata-rata dunia—industri pendukung di darat harus berlomba meningkatkan kapasitasnya untuk mengimbangi apa yang terjadi di angkasa.
Salah satu sektor yang paling terdampak adalah pemeliharaan pesawat. Permintaan untuk perawatan mesin dan komponen atau off-wing maintenance diperkirakan akan meroket hingga mencapai nilai US$100 miliar pada akhir periode ramalan tersebut. Meskipun permintaannya sangat tinggi seiring bertambahnya usia armada, industri ini masih dibayang-bayangi oleh tantangan rantai pasok dan kelangkaan tenaga kerja terampil. Di saat yang sama, investasi besar mulai mengalir ke infrastruktur pemeliharaan di dalam hanggar, di mana negara-negara seperti Indonesia, India, Malaysia, dan Filipina kini tengah gencar membangun fasilitas perawatan pesawat (MRO) baru untuk memperkuat kapabilitas regional mereka.
Tidak hanya soal perbaikan rutin, maskapai-maskapai di Asia-Pasifik juga mulai fokus pada modernisasi kabin dan peningkatan konektivitas demi memanjakan penumpang. Hal ini menciptakan pasar baru untuk modifikasi pesawat yang melibatkan pemasangan teknologi In-Flight Connectivity (IFC) dan produk kabin premium. Revolusi digital pun tak terelakkan; penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan analitik data kini menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi operasional. Teknologi ini memungkinkan pemeliharaan prediktif yang lebih akurat sekaligus membantu maskapai memitigasi kekurangan staf melalui otomatisasi di berbagai lini, mulai dari teknik hingga operasional darat.
Namun, semua kemajuan teknologi ini tidak akan berarti tanpa sumber daya manusia yang mumpuni. Airbus memperkirakan bahwa hingga tahun 2044, kawasan Asia-Pasifik akan membutuhkan lebih dari satu juta profesional penerbangan baru. Angka ini mencakup kebutuhan akan ratusan ribu pilot, teknisi, dan awak kabin yang harus dilatih dengan metode terbaru berbasis kompetensi. Pada akhirnya, transisi besar ini menunjukkan bahwa Asia-Pasifik bukan lagi sekadar pasar pendukung, melainkan arsitek utama yang akan mendefinisikan fase pertumbuhan ekonomi kedirgantaraan global di masa depan.
Singapore Airlines-Air India Bahas Meger Vistara, Mau Kuasai Pasar Penerbangan India?
