Tanggal 19 Februari menjadi catatan emas bagi industri penerbangan Brasil dan dunia. Tepat pada hari ini di tahun 2002, pesawat jet berbadan sempit (narrow-body) Embraer E-170 membelah langit untuk pertama kalinya dari fasilitas pabrikan di São José dos Campos. Penerbangan perdana ini bukan sekadar uji coba teknis, melainkan awal dari sebuah revolusi yang mengubah peta persaingan jet regional global, yang selama dekade sebelumnya didominasi oleh pabrikan besar asal Amerika Utara dan Eropa.
Pengembangan keluarga E-Jet dimulai pada akhir 1990-an ketika Embraer menyadari adanya celah pasar antara jet regional kecil berkapasitas 50 kursi dan pesawat jet besar seperti keluarga Boeing 737 atau Airbus A320. Proyek yang awalnya dinamakan ERJ-170 ini bertujuan menghadirkan pesawat yang menawarkan kenyamanan layaknya jet besar namun dengan biaya operasional jet regional. Berbeda dengan model ERJ-145 sebelumnya yang merupakan pengembangan dari pesawat turboprop, E-170 dirancang dari nol dengan desain clean-sheet.
Salah satu inovasi paling menonjol dari desain ini adalah konfigurasi penampang lambung “double-bubble”. Desain unik ini memungkinkan Embraer menghilangkan kursi tengah yang sempit, sehingga setiap penumpang mendapatkan akses jendela atau lorong (aisle) dengan ruang kepala dan bahu yang lebih luas. Terobosan ini secara instan menghapus citra jet regional yang selama ini dianggap sesak dan tidak nyaman bagi penumpang jarak jauh.
Kesuksesan penerbangan perdana E-170 segera diikuti oleh pengembangan varian yang lebih besar, yakni E-175, E-190, dan E-195. Strategi Embraer untuk menciptakan sebuah “keluarga” pesawat dengan kesamaan suku cadang dan kokpit yang identik terbukti menjadi nilai jual utama bagi maskapai. Pilot yang memiliki sertifikasi untuk E-170 dapat dengan mudah menerbangkan varian E-195 tanpa perlu pelatihan ulang yang ekstensif, sebuah efisiensi biaya yang sangat krusial bagi manajemen maskapai.
Pasar internasional menyambut hangat keluarga E-Jet. Maskapai besar seperti JetBlue, United Express, hingga Lufthansa mulai mengandalkan pesawat ini untuk rute-rute penghubung (feeder) maupun rute jarak menengah dengan kepadatan penumpang rendah hingga sedang. E-190 dan E-195, khususnya, menjadi favorit karena mampu menampung hingga 110-120 penumpang dengan efisiensi bahan bakar yang jauh lebih baik dibandingkan jet generasi lama.
Hingga saat ini, lebih dari 1.600 unit keluarga E-Jet telah dikirimkan ke berbagai maskapai di seluruh penjuru dunia. Keberhasilan ini tidak hanya mengukuhkan Embraer sebagai produsen pesawat terbesar ketiga di dunia setelah Airbus dan Boeing, tetapi juga memicu lahirnya generasi penerus yang lebih canggih, yakni E-Jet E2. Generasi terbaru ini membawa efisiensi mesin yang lebih tinggi dan sayap komposit yang lebih aerodinamis, memastikan warisan yang dimulai pada 19 Februari 2002 tetap relevan di masa depan.
Penerbangan perdana E-170 dua dekade lalu adalah pembuktian bahwa inovasi tidak harus datang dari raksasa mapan. Dari Brasil, Embraer berhasil membuktikan bahwa dengan mendengarkan kebutuhan pasar akan kenyamanan dan efisiensi, sebuah pesawat jet regional bisa tumbuh menjadi legenda yang menguasai langit internasional.
Setelah Scoot Airlines, Giliran Virgin Australia Order Delapan Unit Embraer E190-E2
