Wilayah Jabodetabek saat ini sudah terhubung berbagai macam transportasi termasuk Kereta Rel Listrik (KRL). Masyarakat tentu dibuat mudah dengan kehadiran transportasi berbasis rel ini. Selain praktis dan terjangkau tentu memberikan tarif yang relatif murah. Segala aktivitas masyarakat semua kalangan, perjalanan KRL menjadi andalan satu-satunya yang sangat efisien.
Di tengah situasi padatnya lalu lintas, solusi menggunakan transportasi KRL sudah sangat melekat di masyarakat sebagai pengguna setia. Apalagi saat ini rangkaian KRL yang di datangkan dari negeri tirai bambu sudah wara wiri beroperasi di setiap lintasan. Tak hanya itu, pengiriman KRL dari negeri sendiri yakni PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun masih terus berdatangan guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
DI jalur Jabodetabek, memang masih beroperasinya KRL buatan Jepang. Bahkan usianya bisa mencapai lebih dari 30 tahun. Namun, karena kebutuhan dari masyarakat dan masih dalam keadaan layak, KRL tersebut tetap melayani perjalanan masyarakat.
PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mengungkapkan kondisi armada KRL Jabodetabek yang kian menua di tengah lonjakan penumpang pada jam sibuk. Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan puluhan rangkaian KRL saat ini telah beroperasi lebih dari tiga dekade dan akan terus memasuki masa konservasi.
Bobby menjelaskan, sebagian besar armada KRL Jabodetabek saat ini berasal dari kereta bekas impor. Usia rangkaian tersebut bahkan melampaui 30 tahun. Dari Jepang, KAI mengimpor 780 unit kereta bekas dari East Japan Railway Company dan 128 unit dari Tokyo Metro.
Sementara itu, jumlah KRL baru yang telah dioperasikan masih relatif terbatas. Bobby mengatakan KAI baru mengoperasikan 132 unit atau 11 trainset KRL baru dari CRRC Sifang, serta 48 unit atau empat trainset dari PT INKA. Kondisi tersebut membuat komposisi armada belum sebanding dengan pertumbuhan jumlah penumpang.
Bobby merinci, satu unit KRL memiliki ukuran sekitar 3 x 20 meter atau 60 meter persegi. Dengan jumlah penumpang sekitar 300 orang, kepadatan di dalam kereta mencapai sekitar lima orang per meter persegi. Kondisi ini berdampak langsung pada kenyamanan dan keselamatan penumpang.
Selain di dalam kereta, kepadatan terjadi di sejumlah stasiun utama, yaitu Stasiun Bogor, Depok, dan Bekasi sebagai titik terpadat di wilayah penyangga. Untuk di Jakarta, kepadatan tertinggi terjadi di Stasiun Sudirman, Manggarai, Tanah Abang, serta Stasiun Sudirman Baru. Kemudian adapun jalur paling padat saat ini adalah lintas Rangkasbitung. Jarak waktu antar kereta di jalur tersebut masih berkisar 10–15 menit karena keterbatasan sistem pendukung.
Selain itu, KAI juga berencana akan meningkatkan sistem kelistrikan dan persinyalan pada 2026. Tegangan listrik akan dinaikkan dari 3.000 kV menjadi 4.000 kV, disertai peningkatan sistem persinyalan. Sehingga nantinya perjalanan KRL tetap lancar walaupun jarak antar kereta semakin banyak.
Jakarta Mengenang 100 Tahun Kedatangan Kereta Rel Listrik, Dejavu?
