Ada Jejak UFO di Bali, Sempat Bikin Penerbangan Dilarang Lewat Gegara Takut Turbulensi

0
Video penampakan UFO di Bali pada 2015. Foto: Tangkapan layar YouTube Channel thirdphaseofmoon

Obyek terbang tidak dikenal alias UFO (unidentified flying object) kerap terlihat di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Pada pertengahan 2011 lalu, sebuah keluarga di Perumahan Citra Pratama, Kerobokan Kelod, Kuta, Bali, mengaku melihat UFO alias benda terbang misterius. Benda tersebut terlihat sebanyak dua kali.

Baca juga: Heboh Pentagon Rilis Video UFO, Penumpang Pesawat Ini Bahkan Pernah Lihat UFO di Siang Bolong

Sayangnya, karena peristiwa itu terjadi pada malam hari, gambar yang berhasil ditangkap tak mengidentifikasi dengan jelas. Hanya berupa sebuah benda di langit dengan cahaya di bagian bawahnya. Tentu saja ada kemungkinan lain di luar UFO.

Pada 2011 dan 2013, UFO kembali muncul di Bali. Bahkan, kemunculan UFO di Bali pada 2015 terekam jelas di video. Dalam video unggahan YouTube channel thirdphaseofmoon, tampak sebuah objek memancar kilauan cahaya sambil bergerak tak beraturan dalam jarak dekat. Dari gerak-geriknya, hampir dapat dipastikan itu bukan pesawat. Hingga kini, hal itu pun masih misterius.

Di tahun 2018, netizen kembali heboh terkait adanya UFO di Bali. Padahal, kala itu masih siang bolong. Meskipun demikian, fenomena kemunculan UFO di beberapa negara memang tak kenal waktu, termasuk pada siang bolong seperti yang dialami oleh seorang penumpang pesawat Jeju Air bernama Lucas Kim, yang mengklaim dirinya melihat UFO dari jendela pesawat saat sedang dalam perjalanan dari Seoul ke Thailand.

Hanya saja, bila fenomena yang dilihat Kim menyerupai UFO dan memang tak mampu dibuktikan dengan jelas oleh berbagai pihak benda apa kalau bukan UFO, lain halnya dengan ‘UFO’ yang muncul pada 2018 di Bali itu. Alih-alih benar UFO, ternyata itu merupakan fenomena awan topi di atas Gunung Agung. Di beberapa tempat, awan serupa juga kerap muncul, seperti di atas kawah Gunung Rinjani, Gunung Sumbing, dan Gunung Semeru.

Di kalangan pendaki gunung, awan berbentuk topi atau mirip jamur ini dikenal dengan nama awan lenticular. Orang Jawa menyebutnya caping gunung, karena awan lenticularis puncak gunung biasanya berbentuk topi khas petani Jawa yang disebut caping.

Atas fenomena itu, BMKG sendiri menghimbau agar pesawat tak melintas di sekitaran tempat kemunculan awan menyerupai UFO atau awan topi itu. Sebab, dikhawatirkan dapat menyebabkan turbulensi. Apa yang BMKG anjurkan memang benar adanya, karena salah satu dari dua penyebab terjadinya turbulensi pada pesawat diakibatkan oleh awan, yang terbesar (dampak turbulensinya) adalah awan cumulonimbus.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk, Kapten British Airways, Steve Allright mengatakan bahwa ada banyak faktor yang dapat menimbulkan turbulensi, namun semua itu sudah dikuasai oleh para pilot, dan mereka mengetahui masing-masing cara untuk mengatasinya.

“Turbulensi memang tidak nyaman, namun tidak berbahaya. Ini adalah bagian dari terbang, dan tidak perlu ditakuti,” ungkap Steve. “Berbagai aspek cuaca menyebabkan berbagai jenis turbulensi, dan yang paling umum dirasakan adalah Clear Air Turbulence (CAT),” imbuhnya.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi lambat laun mulai menjawab tantangan pesawat saat dihadapkan dengan awan cumulonimbus, yang notabene kerap menjadi momok bagi pilot dan tentu saja pesawat beserta isinya.

Seperti dikutip dari laman innovationorigins.com, mencari jalan keluar atas ketakutan berlebih akan turbulensi hebat, Andras Galffy, seorang mahasiswa doktoral dari Technische Universität Wien asal Austria pun menemukan titik terang. Dalam penelitian yang masih menjadi bagian dari disertasinya, ia berhasil menemukan sebuah teknologi sensor yang mampu mengurangi resiko turbulensi hingga 80 persen.

Baca juga: Jangan Lagi Takut Turbulensi, Teknologi ini Bisa Buat Pesawat Nyaris Terbang Mulus

Selain dapat mengurangi kenyamanan dan keamanan akibat turbulensi, teknologi yang sudah mendapat hak paten tersebut dinilai juga dapat menghemat bahan bakar. Pasalnya, ketika turbulensi terjadi, sistem perputaran angin pada sayap pesawat menjadi tak beraturan hingga mengurangi daya angkat pesawat. Akibatnya, pesawat harus mengeluarkan ‘tenaga’ ekstra untuk tetap mempertahankan jalur, ketinggian, serta gaya angkat.

Meskipun teknologi sensor tersebut baru diuji ke pesawat tak berawak, sebagaimana Andras Galffy yang memang ahli di bidang sistem autopilot dan pesawat tak berawak, namun, ia percaya bahwa temuannya ini dapat diaplikasikan ke pesawat berawak atau pesawat komersial. Tak hanya itu, ia juga mengklaim bahwa teknologi tersebut juga dapat diaplikasikan bukan hanya pada pesawat baru, namun juga pada pesawat-pesawat yang sudah ada.

Leave a Reply