Aerotoxic Syndrome, Isu Kesehatan di Dunia Penerbangan yang Masih Disepelekan

0
Ilustrasi. Sumber: Healthy Living

Kendati digadang sebagai moda transportasi handal dengan tingkat keselamatannya yang tinggi, namun jangan salah, ternyata pesawat juga memiliki satu kelemahan yang mengancam kesehatan para penumpangnya. Isunya memang tidak terlalu masif, namun permasalahan ini turut mengundang beberapa pakar dan maskapai untuk memeranginya.

Baca Juga: Sering Sakit Saat Turun Pesawat? Mungkin Ini Penyebabnya!

Adalah Aerotoxic Syndrome, isu di dunia penerbangan yang berkaitan dengan kesehatan ini ternyata sudah lama mengakar dan kerap kali dibantah eksistensinya, meskipun sudah banyak laporan yang masuk dari pilot, awak kabin, hingga penumpang yang terpaksa dirawat inap pasca mengudara, bahkan diantaranya ada yang sampai meninggal dunia.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman news.com.au, Aerotoxic Syndrome sendiri terjadi manakala udara di dalam kabin yang dipompa oleh mesin mengalami ‘kebocoran’. Udara tercemar yang tercampur dengan uap oli mesin panas yang mengandung senyawa kimia berbahaya ini disinyalir tidak hanya dapat dihirup oleh semua orang yang ada di dalam kabin, namun juga dapat menyerap ke dalam kulit.

Asal Mula Aerotoxic Syndrome Menjadi Perhatian Serius
Menurut laporan yang diperoleh oleh Australian Transport Safety Bureau pada tahun 2014 silam, telah terjadi lebih dari 1000 kasus Aerotoxic Syndrome dalam lima tahun terakhir sebelum laporan tersebut diturunkan. Salah satu kasus yang menjadi titik mula berkembangnya isu kesehatan karena kebocoran udara di kabin pesawat ini adalah Pilot Susan Michaelis dan Co-Pilot maskapai Jersey European Airways BAe 146 mendadak mengalami gangguan kesehatan sesaat setelah pesawat tersebut mendarat di Birmingham International Airport pada 5 November 2000.

Keduanya mengalami mual, pandangan kabur, dan gangguan kesehatan lain. Tapi untungnya, mereka dapat mendaratkan pesawat dengan selamat. Pilot beserta Co-Pilot langsung dirujuk ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan lebih lanjut, namun pihak dokter tidak menemukan penyebab dari gangguan kesehatan yang dialami. Namun laporan pasca penerbangan menyebutkan bahwa adanya kebocoran minyak dari segel Auxiliary Power Unit (APU). Kebocoran inilah yang akhirnya disinyalir sebagai penyebab kontaminasi udara di dalam kabin.

Siapa sangka, hal yang menimpa Susan pada tahun 2000 silam ternyata meninggalkan ‘cacat permanen’ di tubuhnya. Ia didiagnosa mengalami kanker payudara pada tahun 2013 silam, dan tidak tinggal diam dengan ancaman kesehatan di dunia penerbangan ini. Ia yang kini menjadi kepala peneliti di Global Cabin Air Quality Executive ini pun mengatakan bahwa ada sejumlah pilot di Inggris yang terkena kanker otak dan menduga ini dilatarbelakangi oleh pencemaran udara tersebut. “Mereka kebanyakan melakukan penerbangan jarak pendek,” ungkap Susan.

Namun kembali lagi, penelitian yang dilakukan oleh Susan bersama timnya ini mendapat respon kurang baik dari Civil Aviation Safety Authority (CASA) yang menyebutkan bahwa mereka masih ragu akan hasil penelitian tersebut. Tidak mau kalah dengan Susan, CASA lalu melakukan sebuah penelitian Contamination of Aircraft Cabin Air by Bleed Air pada tahun 2009 dan menyebutkan bahwa potensi kontaminasi udara di dalam kabin ini patut mendapatkan perhatian, namun bukti dari kasus ini masih dinilai kurang.

Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele

Tindak Lanjut EasyJet
Terlepas dari isu ini ditanggapi serius oleh CASA atau tidak, namun maskapai berbiaya rendah asal Inggris, EasyJet nampaknya tidak mau mengambil risiko lebih lanjut. Diberitakan oleh laman sumber, pihak maskapai bekerja sama dengan pemasok komersial, Pall Aerospace, guna mengembangkan dan merancang sistem penyaring udara di kabin versi teranyar.

Walaupun secara tidak langsung EasyJet tidak menyebutkan bahwa pengadaan sistem penyaring udara terbaru ini adalah untuk memerangi isu Aerotoxic Syndrome, namun langkah tersebut menuai pujian dari sejumlah elemen, salah satunya datang dari Tristan Loraine, mantan kapten British Airways. “Saya mengucapkan selamat kepada EasyJet karena memiliki visi dan keberanian dalam memerangi isu ini, dimana maskapai lain tidak memilikinya,” ujar Tristan.

Leave a Reply