AirNav Implementasikan Sistem Performance Based Navigation, Apa Itu?

0
Ilustrasi Performance Based Navigation atau PBN. Foto: Istimewa

Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau biasa dikenal AirNav resmi menggunakan rute penerbangan domestik berbasis satelit atau Performance Based Navigation (PBN). Apa itu?

Baca juga: Alihkan Jalur Utara Jawa yang Padat, AirNav Siap Benahi Navigasi di Tiga Bandara di Selatan Jawa

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sebetulnya penjelasan hal tersebut tidak sederhana. Namun, seorang pengamat penerbangan menyebut bahwa PBN adalah sebuah sistem yang membantu pesawat untuk terbang dengan jalur yang lebih cepat, dibanding sistem sebelumnya yang berdasarkan berbagai instrumen pendukung yang ada di darat, semisal sistem navigasi bumi.

Dengan PBN, pesawat dimungkinkan untuk bergerak lulus pada jalur lalu lintas pesawat (airways) akibat dari berbagai sistem di pesawat yang semakin lengkap, sehingga ketergantungan pesawat terhadap bantuan dari instrumen-isntrumen di darat semakin kecil. Semisal ketinggian pesawat, kemiringan, jarak ujung pesawat dengan airways (nautical miles), cuaca, objek penghalang yang berada di sekeliling pesawat, semisal gunung, bukit, dan lain sebagainya.

Padahal, sebelum adanya PBN, misalnya, dalam rute Jakarta – Surabaya, pesawat harus mengikuti stasiun navigasi (semacam tower sinyal) yang berada di berbagai wilayah, untuk terus membimbing pesawat tersebut sampai ke Surabaya. Akibatnya, pesawat menjadi lebih lama secara jarak tempuh dan ruang udara menjadi sempit hanya karena satu pesawat.

Namun, berkat PBN, yang didukung oleh penggunaan satelit (sebelumnya radar) dan berbagai instrumen pendukung lainnya, pesawat hampir tidak membutuhkan bimbingan dari stasiun navigasi di darat karena pesawat sudah dapat membimbing dirinya sendiri, berkat sistem yang tertanam pada pesawat.

Selain itu, berkat PBN, jarak nautical miles atau spasi antar airways (jalur pesawat) juga semakin kecil karena tingkat akurasi pesawat yang semakin besar. Artinya, dalam usaha untuk mengikuti jalur pesawat yang sudah ditetapkan, pesawat tidak menyimpang terlalu jauh dari batas jarak yang sudah ditetapkan. Sehingga, dengan begitu, PBN dapat memaksimalkan ruang udara yang ada di tengah kepadatan ruang udara yang semakin meningkat di setiap tahunnya.

Dalam implementasinya, PBN dibantu dengan prosedur yang dinamakan RNAV dan RNP. RNAV sendiri merupakan kepanjangan dari Area Navigation. RNAV adalah metode navigasi yang mengizinkan pesawat terbang untuk terbang dalam dalam lintasan yang diinginkan, dalam cakupan kerja dari stasiun navigasi bumi (VOR,DME, ADF).

Tanpa RNAV, pesawat harus terbang dalam lintasan yang mengikuti posisi stasiun navigasi bumi. Dengan memakai RNAV, pesawat dapat terbang dalam lintasan yang lebih efisien. Tidak harus melintasi stasiun2x navigasi di bumi, namun cukup melintasi titik2x imajiner yang disebut waypoints.

Sistem RNAV akan mentukan posisi dan kecepatan pesawat dengan memakai acuan dari data yang dipancarkan stasiun navigasi (VOR,DME, ADF). Atau memakai sistem GPS (Global Position Systems) atau INS (Inertial Navigation Systems) , atau kombinasi semuanya.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, input navigation sensor bisa berasal dari stasiun navigasi bumi (VOR, DME, ADF ), INS ataupun GPS. Untuk pesawat Boeing 737, fungsi RNAV dilakukan oleh FMC (Flight Management Computer) Sistem RNAV akan memberikan pedoman (guidance) kepada pilot melalui navigation display. Biasanya akan berbentuk peta digital dengan simbol pesawat, rencana rute yang akan dilewati, dan tanda2x navigasi lain semisal airports, stasiun navigasi atau waypoints. RNAV juga dapat terhubung dengan sistem autopilot

RNP merupakan kepanjangan dari Required Navigation Performance, suatu pernyataan mengenai performa navigasi pesawat dalam menjaga posisi pesawat terhadap lintasannya (dalam sumbu horizontal) selama terbang. Kemampuan ini minimal mempunyai akurasi sebesar 95 persen dari keseluruhan waktu terbang.

Sama seperti RNAV, RNP juga mempunyai spesifikasi tertentu. Spesifikasi ini menunjukkan nilai yang harus dijaga selama pesawat melintasi suatu lintasan.

Baca juga: Giliran Airnav Terbitkan NOTAM, Bandara Ngurah Rai Ditutup Sementara Mulai Pagi Ini

Semisal sebagai contoh adalah RNP-5. Berarti pesawat harus dapat mempertahankan posisinya terhadap lintasan dengan simpangan maksimal sebesar 5 NM (Nautical Miles). Baik simpangan ke kanan maupun kekiri. Sehingga total lebar lintasan yang diperbolehkan untuk pesawat itu adalah sebesar 10 NM.

RNP dikembangkan dari sistem RNAV dengan tambahan kemampuan untuk memeriksa performa akurasi pesawat dan juga peringatan ke pilot apabila akurasi tersebut tidak terpenuhi.

Leave a Reply