Akankah Jepang Jadi Pionir Tarif Taksi ‘Fluktuatif’ Berdasarkan Permintaan?

Sumber: CNBC Indonesia

Kementerian Transportasi Jepang memulai uji coba penetapan tarif taksi yang fluktuatif berdasarkan permintaan di Tokyo pada bulan ini. Tiga perusahaan taksi turut mengambil bagian dalam uji coba ini, dimana tujuan utamanya adalah untuk membuat layanan ini menjadi lebih ramah pelanggan dan meningkatkan penumpang serta memungkinkan perusahaan taksi untuk menetapkan tarif secara fleksibel. Hal ini ditempuh Pemerintah setempat karena melihat adanya kemungkinan layanan ridesharing berkembang dan menjamur di Negeri Sakura.

Baca Juga: ‘Ganti Persneling’, Uber Coba Peruntungan Jajal Bisnis Taksi di Jepang

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman the-japan-news.com (7/10/2018), Pemerintah bertujuan untuk memelihara taksi sebagai moda transportasi di daerah setempat dengan meningkatkan layanan dan daya saing antar industri taksi domestik. Diluncurkan sejak 1 Oktober kemarin, adapun tiga perusahaan taksi yang turut serta dalam uji coba penetapan tarif ini adalah Nihon Kotsu, Daiwa Motor Transportation, dan Kokusai Motorcars.

Skema tarif yang akan dikenakan pada Nihon Kotsu adalah penumpang akan dikenakan tarif sebesar ¥410 atau yang setara dengan Rp55.000 jika penumpang memesan layanan ini via aplikasi pada hari Minggu siang atau hari-hari off-peak lainnya. Lokasi penjemputannya pun masih terbatas, seperti di Minato Ward. Skema yang sama juga diterapkan pada Daiwa Motor Transportation dan Kokusai Motorcars, namun besaran yang harus dibayarkan penumpang berbeda – mulai dari ¥0 hingga ¥910 atau yang setara dengan Rp123.000.

Tarif fleksibel seperti ini kerap kita temui di industri perhotelan dan maskapai penerbangan – dimana tarif akan naik selama periode sibuk. Hadirnya uji coba ini seolah menandakan bahwa industri taksi pun bisa menerapkan skema penetapan tarif seperti di hotel dan penerbangan. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga Jepang akan menjadi pionir dalam penentuan tarif fleksibel seperti ini.

Pada dasarnya, layanan ridesharing dianggap ilegal karena dinilai sebagai layanan tanpa izin. Isu lain yang semakin mendorong Pemerintah untuk mencari jalan keluar terbaik dari sektor transportasi Jepang adalah industri taksi yang semakin melemah di berbagai aspek.

Baca Juga: Operator Taksi Jepang Buka Lowongan Jadi Pengemudi Asing, Tertarik?

“Lebih dari separuh taksi yang beroperasi di Jepang tidak mengangkut penumpang. Sangat penting bagi kami untuk meningkatkan produktivitas industri tersebut,” ujar salah seorang sumber dari Kementerian Transportasi Jepang. Mereka berharap, skema penetapan tarif baru ini dapat membawa angin segar bagi industri taksi di Negeri Sakura.