Alihkan Tren Mudik Malam Hari di Merak–Bakauheni, Kemenhub Canangkan Dua Jurus Andalan

Selama ini seolah menjadi tren bagi pemudik Lebaran yang membawa kendaraan pribadi untuk melintasi penyeberangan Merak – Bakauheni pada malam hari. Berdasarkan pantuan dari tahun ke tahun, pilihan untuk menyeberang di malam hari dikarenakan beberapa hal. Diantara yang dominan adalah perjalanan di malam dipilih lantaran saat siang mereka harus berpuasa. Terlebih bagi yang membawa keluarga, pada perjalanan malam bisa lebih tenang, biasanya anak-anak dapat beristirahat di kendaraan.

Baca juga: Presiden Jokowi Resmikan Terminal Eksekutif Sosoro-Merak dan Anjungan Agung-Bakauheni

Seperti Bayu Laksana (47 tahun), pegawai swasta di Jakarta ini saban tahun memilih menyeberang malam ke Bakauheni (Sumatera) agar dapat tiba di kota tujuannya (Palembang) pada pagi hari. “Mudik malam hari lebih nyaman buat pengemudi yang berpuasa, selain terhindari dari hawa terik, perjalanan bisa digabungkan dengan waktu sahur,” ujar Bayu kepada KabarPenumpang.com.

Apa yang dilakukan Bayu rupanya juga menjadi ‘tradisi’ buat ribuan pemudik yang melintasi Merak – Bakauheni. Dan bisa ditebak, pengumpulan jumlah kendaraan dalam sesi waktu tertentu berdampak pada antrean panjang di pelabuhan, bahkan tak jarang ratusan mobil sampai mengular di akses tol Merak.

Hal tersebut menjadi momok bagi Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Perhubungan Darat yang menaungi penyedia jasa dan pengelola pelabuhan, PT ASDP Indonesia Ferry. Dalam sebuah wawancara di MetroTV, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi menyebutkan, bahwa saat musim mudik, penumpukan kendaraan di pelabuhan selalu pada jam-jam dini hari.

“Hasil survei kami melihat masyarakat menyeberang jam 12 malam sampai jam 6 pagi, dari Jabodetabek sebagian besar menyebrang ke Sumatera, jadi distribusi pagi dan siang tidak seimbang, itu bisa mengakibatkan 7-9 km antrean di pelabuhan,” ungkap Budi.

Dikutip dari detik.com (6/5/2019), Direktorat Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan punya jurus untuk mengatasi masalah yang terjadi setiap tahun tersebut. Jurus pertama yang dicanangkan adalah pemberlakuan ganjil – genap bagi kendaraaan yang akan menyeberang. Jadi nantinya, operasional pelabuhan akan dibagi dua, 12 jam untuk kendaraan yang berpelat ganjil, 12 jam lainnya untuk kendaraan berpelat genap. “Nanti mulai, 31 Mei rencananya jam 6 pagi-6 sore ini diarahkan yang menyeberang kendaraan ganjil, 6 sore-6 pagi genap,” papar Budi.

Baca juga: Sebelum Menyebrang ke Bakauheni, Yuk Main di Destinasi Ini!

Jurus kedua yang dicanangkan adalah pemberlakuan diskon tiket untuk penyeberangan di waktu tertentu. Diskon misalnya berlaku untuk kendaraan yang menyeberang pada siang hari, sedangkan penumpang yang menyeberang pada malam hari dikenakan harga tiket normal. Hal ini untuk menghindari penumpukan penyeberangan pada malam hari sebagaimana terjadi pada arus mudik Lebaran 2017 dan 2018 lalu.