Aneh, Ternyata Japan Airlines Pernah Operasikan Tu-114 Saat Puncak Perang Dingin

0
Joint operation Aeroflot-Japan Airlines menggunakan pesawat terbesar di dunia pada saat itu, Tupolev Tu-114. Foto: travelupdate.com

Di era perang dingin, Jepang dan Uni Soviet berada di blok berlawanan. Bisa dibilang, keduanya sangat berbeda haluan, baik ideologi maupun politik. Namun, siapa nyana, saat perang dingin tengah memuncak, maskapai dari kedua negara, Japan Airlines dan Aeroflot, justru melakukan joint operation untuk rute Moskow-Tokyo.

Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007

Dilansir travelupdate.com, sebetulnya pembahasan joint operation Japan Airlines dan Aeroflot sudah dimulai sejak tahun 1956. Tetapi, pembahasan menemui jalan buntu dan harus diperpanjang selama beberapa tahun. Kesepakatan akhirnya terjadi berujung pada penandatanganan perjanjian antar kedua maskapai di bulan Januari tahun 1966.

Hanya saja, negara tempat kedua maskapai bernaung masih berada di barisan yang berbeda. Pada akhirnya, ini membuat pelaksanaan joint operation Japan Airlines-Aeroflot justru diwarnai sikap saling curiga.

Uni Soviet curiga dan takut kerjasama ini malah disusupi misi lain karena rute tersebut melewati wilayah militer yang sensitif, dimulai dari Sheremetyevo, Nerli, Vologda, Kotlas, Syktyvkar, Khanty-Mansiysk, Podkamennaya, Vichim, Ekimchan, Troitskoye, Edinka, Skund, Kodofishi, Niigata, Daigo, Sakura, dan berakhir di Tokyo.

Sebaliknya, Jepang khawatir kalau kerjasama ini jadi ancaman nasional dikarenakan Bandara Haneda berada 9 km dari pusat kota Tokyo. Pilot dan co-pilot, yang dalam perjanjian seluruhnya disediakan oleh Aeroflot, bukan tidak mungkin mengarahkan pesawat ke pusat kota dan menjatuhkannya di sana. Tetapi, di sisi lain, Jepang butuh kerjasama ini karena rute terbaik ke Jepang dari Eropa adalah melintasi langit Uni Soviet (Rusia). Alhasil, sekalipun diliputi rasa saling curiga, joint operation ini bisa berjalan.

Joint operation Japan Airlines-Aeroflot menggunakan pesawat penumpang terbesar di dunia, Tupolev Tu-114. Setidaknya dua pesawat dengan nomor registrasi CCCP-76464 dan CCCP-76470 disiapkan untuk melancarkan operasi ini. Pesawat juga telah dikonfigurasi ulang menjadi 116 kursi, terbagi menjadi tiga kelas, state room, first class, dan kelas ekonomi.

Layanan pertama dimulai pada 17 April 1967, dimana saat itu penerbangan memakan waktu 10 jam 35 menit dari Moskow ke Tokyo sejauh 8.015 km dengan dipiloti oleh kru dari Aeroflot. Pada penerbangan balik ke Moskow, waktu tempuh bertambah menjadi 11 jam 25 menit.

Meskipun cukup lama, penumpang saat itu dilaporkan amat menikmati layanan dari masing-masing lima pramugari Japan Airlines dan Aeroflot. Hanya saja, mesin piston serta baling-baling contra-rotating yang diusung pesawat membuat kabin terlalu bising, apalagi bagi penumpang kelas ekonomi yang dekat sekali dengan mesin.

Seiring waktu berjalan, Uni Soviet mulai membuka ruang udara mereka untuk beberapa maskapai, seperti BOAC, Air France, dan Lufthansa; termasuk Japan Airlines. Tak disebutkan dengan jelas kapan joint operation ini berakhir. Terlepas dari hal itu, banyak yang menyebut bahwa langkah kedua maskapai ini menjadi awal cairnya hubungan Uni Soviet dan Barat.

Sekalias tentang Tupolev Tu-114, yang oleh NATO dijuluki Cleat, adalah pesawat turboprop jarak jauh yang dirancang oleh biro desain Tupolev dan dibangun di Uni Soviet mulai Mei 1955. Tu-114 Rossiya merupakan pesawat penumpang terbesar dan tercepat di dunia pada waktu itu. Pesawat memiliki jangkauan terpanjang yakni 10.900 km dan telah memegang gelar resmi pesawat baling-baling tercepat sejak 1960.

Baca juga: Pro Kesetaraan Gender, Japan Airlines Tak Lagi Sebut “Bapak-Ibu”

Didukung empat baling-baling serta mesin Kuznetsov NK-12 buatan produsen dalam negeri, Tu-114 mampu melakukan perjalanan dengan kecepatan khas pesawat jet modern, 880 km per jam. Meskipun mampu menampung 224 penumpang, ketika dioperasikan oleh Aeroflot, lebih umum menyediakan 170 flatbed dan ruang makan.

Dalam 14 tahun berkarir di kancah penerbangan sipil, Tu-114 dilaporkan memiliki tingkat keamanan dan keandalan yang tinggi. Tu-114 mengangkut lebih dari enam juta penumpang sebelum digantikan oleh Ilyushin Il-62 bertenaga jet. Sebanyak 32 pesawat dibangun di pabrik penerbangan Kuibyshev pada awal 1960an.

LEAVE A REPLY