Apa yang Dilakukan Pilot Ketika Salah Satu Mesin Pesawat Mati?

Ilustrasi mesin pesawat mati selama penerbangan. Sumber: Youtube

Pernahkah Anda membayangkan pesawat yang Anda tumpangi terpaksa melakukan pendaratan darurat dikarenakan ada masalah pada salah satu mesinnya? Wah, ketika mendengar pengumuman semacam ini di dalam pesawat, tentu jantung Anda akan otomatis berpacu kencang dan jalan pikiran akan menggiring pada suatu hal yang terburuk – kecelakaan. Namun jangan dulu berpikiran yang macam-macam, mengingat pesawat tidaklah diciptakan dengan fitur keselamatan yang ecek-ecek.

Baca juga: ETOPS – Sertifikasi Darurat Pesawat Twin Engine Agar Layak Mengudara dengan Satu Mesin

Beragam skema kecelakaan yang mungkin dihasilkan oleh kegagalan fungsi mesin sudah memiliki ‘penawarnya’ masing-masing. Namun yang jadi pertanyaan di sini adalah, “Bagaimana seorang pilot menangani kegagalan fungsi mesin di tengah penerbangan? Mengingat ia merupakan orang pertama yang akan menyadari kondisi darurat ini.”

Guna menjawab pertanyaan ini, KabarPenumpang.com mengutip dari laman thepointsguy.co.uk, biasanya, pesawat akan mengalami kendala pada bagian mesin ketika si burung besi ini belum melakukan ‘pemanasan’. Layaknya seorang atlet, mereka akan lebih rentan terkena cidera ketika belum melakukan pemanasan sebelum bertanding – sama halnya seperti pesawat. Maka dari itu, di jagad dirgantara dikenal dengan yang namanya five-minute ‘warm up’ period, dimana pesawat bisa melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum bertugas.

Salah satu gejala awal yang akan diterima oleh pilot ketika salah satu mesin mengalami kendala adalah alarm peringatan dari Master Caution System yang muncul pada layar Engine Indicating and Crew Alerting System (EICAS). Di layar ini, pilot bisa mengidentifikasi mesin mana yang mengalami masalah dan harus mulai mempertimbangkan langkah selanjutnya – apakah pesawat bisa melanjutkan penerbangan dengan hanya menggunakan satu mesin, atau mesti melakukan pendaratan darurat. Walaupun pada kebanyakan kasus, pilot akan lebih memilih untuk melakukan pendaratan darurat dengan menimbang keselamatan penumpang dan awak.

Tidak hanya pilot yang berperan dalam mengendalikan sebuah pesawat yang ‘tengah cidera’ ini, melainkan sistem di dalam pesawat juga akan menampilkan beberapa skenario kegagalan mesin – dimana sistem akan menampilkan di ketinggian berapakah pesawat akan dapat mempertahankan kecepatan udara yang dinilai aman. Penggambaran skenario ini akan bersanding dengan keterampilan pilot untuk mengendalikan pesawat yang hanya dioperasikan oleh satu mesin. Ya, mereka sudah terlatih untuk menghadapi kondisi semacam ini.

Tidak lupa, komunikasi dengan menara pengawas lalu lintas udara juga harus terus terjalin agar dapat memberikan opsi kepada pilot untuk melakukan pendaratan darurat semisal dibutuhkan.

Sumber: thepointguy.co.uk

Sejatinya, pesawat sudah memiliki jalurnya masing-masing dalam melakukan sebuah penerbangan, dan semuanya tertata rapi guna menghindari collision di udara. Jika kasus mati mesin seperti ini muncul, maka seorang pilot biasanya akan keluar dari jalur yang sudah direncanakan sebelumnya dan bergabung dengan jalur lain yang akan menggiringnya ke bandara terdekat. Hanya saja, pilot akan berada kurang lebih 5 nautical miles atau sekira 9,3 km dari jalur menuju bandara yang dituju agar terhindar dari tabrakan di udara.

Baca Juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air

Jika sudah pada tahap seperti ini, biasanya pilot akan berputar-putar dulu di udara sebelum melakukan pendaratan guna membuang bahan bakar yang ada pada sayap. Ya, sebuah pesawat tidak mungkin melakukan pendaratan dengan kondisi tangki bahan bakar masih terisi penuh.

Jadi, sudah terbayangkah oleh Anda tentang skema yang akan dilakukan seorang pilot jika salah satu mesinnya mengalami masalah dan terpaksa harus melakukan pendaratan darurat?