BAe-146 200 “Republik Indonesia” – Pesawat Jet Empat Mesin Pertama yang Mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta

0

Pada 4 Mei lalu, atau H-2 sebelum pengoperasian secara komersial Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) pada 6 April 2019, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla melakukan kunujungan kerja untuk melihat langsung kesiapan bandara yang berlokasi di kawasan Kulon Progo. Bersama rombongan dari Lanud Halim Perdanakusuma, Wapres menggunakan pesawat Kepresidenan BAe-146/RJ85, yang sekaligus menandakan untuk pertama kalinya pesawat jet bermesin empat (four engine) mendarat di bandara yang punya runway sepanjang 3.250 meter.

Baca juga: Di Tengah Hembusan Angin Laut Selatan, Proving Flight Berlangsung Sukses di Bandara Internasional Yogyakarta

Lepas dari kunjungan Wapres Jusuf Kalla, sosok pesawat BAe-146, persisnya dari seri BAe-146 200 menarik untuk dicermati. Walau menyandang predikat pesawat Kepresidenan dengan livery bertuliskan “Republik Indonesia,” namun pesawat ini masih menggunakan kode pesawat sipil, yaitu PK-PJJ, lantaran secara kepemilikan pesawat ini adalah milik maskapai Pelita Air Service (PAS).

BAe-146 yang ditumpangi Wapres Jusuf Kalla jelas bukan pesawat baru, di zaman Presiden Soeharto berkuasa, pesawat narrow body ini kerap digunakan untuk menyambagi wilayah pelosok yang hanya memiliki basis landasan udara sederhana. Berdasarkan catatan dari planespotters.net, disebutkan BAe-146 200 PK-PJJ dengan nama “Wamena” dibuat oleh British Aerospace (Inggris) dan terbang perdana pada 28 Agustus 1993. Setelah melewat tahap uji terbang dan pemasangan interior kabin VVIP (Very Very Important Person), pesawat ini kemudian resmi diserahkan ke PAS pada 20 Desember 1993.

Mengutup dari Indomiliter.com, untuk kebutuhan VVIP, BAe-146 200 PAS dilakukan konfigurasi pada sisi interior, dari yang tadinya dapat membawa 109 penumpang, versi BAe-146 200 Soeharto disulap untuk maksimal membawa 30 penumpang saja. Sejak pesawat Kepresidenan ditangani sepenuhnya oleh PAS, maka para awaknya juga adalah orang-orang sipil. Hanya saja setiap kali Presiden pergi selalu ada awak cadangan yang ikut dan seorang perwira penerbang senior TNI AU yang bertindak sebagai liason officer duduk di kokpit. Saat ini operasional pesawat ditangani oleh Sekretariat Negara dan home base berada di Lanud Halim Perdanakusuma.

Foto: Istimewa

Tentu menjadi pertanyaan menarik, mengapa level pesawat Kepresidenan tertarik dengan BAe-146? Ternyata dari sisi performa, pesawat ini sanggup mendarat dan lepas landas dari lapangan terbang yang sederhana, dan tak perlu landasan yang terlalu panjang, pasalnya dengan sokongan empat mesin, dorongan tenaga yang dihasilkan lumayan besar. Sementara dari aspek keamanan, bekal empat unit mesin tentu memberi level safety lebih baik, tatkala ada satu atau dua mesin yang gagal berfungsi.

Dengan mesin 4x Honeywell ALF 502R-5, pesawat ini dapat terbang dengan kecepatan maksimum 890 km per jam dan kecepatan jelajah 750 km per jam. Berbekal kapasitas bahan bakar penuh (11.728 liter avtur), pesawat ini dapat terbang sampai 2.365 km. Kapasitas payload yang dapat dibawa mencapai 8.075 kg. Sebagai informasi bobot maksimum saat lepas landas adalah 42.184 kg.

Keunggulan BAe-146 diantaranya telah dilengkapi EFIS (Electronic Flight Instument System) yang modern. Adopsi empat mesin ini kabarnya dibuat untuk mengurangi kebisingan, pasalnya jenis mesin yang digunakan berukuran kecil dan di saat yang bersamaan mempunyai tenaga cukup besar untuk lepas landas di landasan pendek, kemampuan ini disebut STOL (Short Take Off and Landing). Pihak pabrikan menggunakan lapisan peredam suara tambahan yang dipasang ke dalam mesin.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia – Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Untuk kepentingan navigasi ada bekal EGPWS (Enhanced Ground Proximity Warning System). EGPWS adalah alat hasil pengembangan yang lebih canggih dari GPWS, yakni alat untuk memberikan peringatan pada penerbang jika pesawat mendekati/akan menabrak daratan/terrain.

Leave a Reply