[Bagian 1] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Hanya Beroperasi Sampai Pukul 6 Sore

0
(mikes.railhistory.railfan.net)

Dengan menggunakan KA Bromo Anggrek, menempuh perjalanan antara Jakarta dan Surabaya membutuhkan waktu sekitar 9 jam. Namun lain halnya di era Pra Kemerdekaan, persisnya di periode 1914 – 1918, guna meladeni perjalanan Jakarta – Surabaya waktu paling cepat adalah antara 29 sampai 32 jam, itu pun dengan kereta mewah Java Nacht Express.

Baca juga: Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia

Lamanya perjalanan lantaran kereta api kala itu tidak melaju di malam hari. Alhasil rute Jakarta – Surabaya mengharuskan bagi penumpang untuk menginap atau transit di salah beberapa kota, dalam hal ini Semarang, Bandung dan Yogyakarta.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari mikes.railhistory.railfan.net,  pada periode 1914-1918 tidak mungkin untuk menyelesaikan perjalanan dari satu ke yang lain dalam satu hari. Satu kekhasan operasi kereta api di Jawa adalah bahwa tidak ada kereta yang berjalan setelah gelap, karena risiko melintas jalur yang tidak dipagari, dan bahaya dari tanah longsor serta hujan tropis.

Semua kereta dari jenis apa pun, berhenti beroperasi antara pukul 6 dan 7 malam. Begitu banyak waktu di hari-hari sebelumnya yang harus dihabiskan untuk berlari di atas kemiringan curam di Preanger sehingga perlu untuk menginap di Bandung atau Yogyakarta, dan kemudian melanjutkan perjalanan pada hari berikutnya.

Ilustrasi

Dengan demikian, dibutuhkan sekitar 29 jam untuk melakukan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Bahaya operasi kereta api di negara seperti Jawa diilustrasikan bahwa seekor kerbau pernah tersesat ke jalur utama dekat Batavia.

Di tengah Pulau Jawa ada Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), merupakan Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda dan berpusat di Semarang. Saat itu jalur kerera terbagi menjadi jalur barat yakni Batavia dan Bandoeng (Bandung) dan jalur timur Surabaya yang dipisahkan oleh bentangan NIS dari Djokjakarta (Yogyakarta) ke Soerakarta (Surakarta).

Baca juga: Adakah Kaitan Antara Pecahnya Perang Diponegoro dengan Pembangunan Jalur Kereta di Jawa?

Jalur Jakarta – Surabaya adalah lintasan yang dipersiapkan untum layanan kereta cepat kala itu, di jalur tersebut kereta dapat dipacu pada kecepatan maksimum 86,5 km per jam. NIS terbilang serius untuk menggarap kereta cepat pada masa itu, dibuktikan dengan sempat dirilisnya model lokomotif kereta uap NIS 171 yang berdesain futuristik.

Nah, Anda ingin tahu kelanjutan kisah jalur kereta pra kemeredekaan di Pulau Jawa? Simak pada artikel berikutnya. (Bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply