Barelang, Jembatan Dengan Seribu Nama dan Cerita

Sumber: istimewa

Bagi Anda yang tinggal di Sumatera, mungkin Anda tidak asing dengan yang namanaya Jembatan Barelang. Ya, nama jembatan ini bisa dibilang cukup unik karena merupakan gabungan dari pulau-pulau yang dihubungkan dengan jembatan ini, yaitu Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang. Uniknya lagi, Jembatan Barelang bukanlah merupakan nama dari satu jembatan, melainkan sebutan untuk enam jembatan yang ada di kepulauan Riau, yaitu Jembatan Tengku Fisabilillah, Jembatan Nara Singa, Jembatan Raja Ali Haji, Jembatan Sultan Zainal Abidin, Jembatan Tuanku Tambusai, dan Jembatan Raja Kecik. Jembatan yang diprakarsai oleh mantan presiden ketiga Indonesia, B. J. Habibie kini dikenal sebagai landmark Pulau Batam.

Baca Juga: Jembatan Pamban, Selipkan Maut Dibalik Keindahan Pemandangannya

Jembatan Barelang merupakan pilot project berteknologi tinggi yang melibatkan ratusan insinyur lokal tanpa campur tangan dari tenaga ahli luar negeri. Jembatan yang memiliki nama asli Jembatan Fisabilillah ini awalnya dibangun untuk memperluas wilayah kerja Otorita Batam sebagai regulator daerah industri Pulau Batam. Jembatan ini mulai dibangun pada tahun 1992dan membutuhkan waktu enam tahun untuk menyelesaikannya. Tidak lupa, pembangunan jembatan ini juga merupakan bentuk kuatnya keinginan para investor untuk berinvestasi di Pulau Batam pada tahun 1991 silam.

Selain dijadikan penghubung ketiga pulau yang sudah disebutkan di atas, Jembatan Barelang juga kerap kali dijadikan tempat bagi para warga sekitar menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan laut yag terhampar dari atas jembatan. Mulai dari anak kecil hingga orang tua tidak luput dari pelupuk mata ketika Anda datang ke jembatan ini, terutama pada sore menjelang. Pemandangan pulau-pulau kecil yang terhampar di sekitaran area tersebut juga semakin menambah elok panorama di sana.

sumber: posmetro.co

Budaya kaum low-end  yang kerap kali menjadikan jembatan sebagai tempat untuk menghabiskan waktu  tentu membawa cerita tersendiri, baik bagi pengguna jalan yang melewati jembatan tersebut atau dari orang-orang yang menghabiskan waktunya di atas jembatan itu sendiri. Untuk para pengguna jembatan, mungkin keberadaan para penikmat pemandangan dari atas prasarana transportasi tersebut tentunya agak sedikit mengganggu, karena dinilai mengganggu lalu lintas di sana. Belum lagi kehadiran tukang jualan yang semakin memperkeruh suasana jalanan di sana. Namun cerita berbeda datang dari para penikmat pemandangan dari atas jembatan. Mereka bisa menikmati pemandangan dari atas sana tanpa harus mengeluarkan biaya, ditambah lagi dengan kehadiran para pedagang asongan yang berharap agar barang yang mereka jajakan bisa dibeli oleh orang-orang tersebut. Walaupun sebenarnya, keberadaan orang-orang semacam ini amatlah membahayakan bagi para pengguna jembatan, maut seakan siap mengincar bagi siapa saja yang tidak berhati-hati di sini.

Hipotesa ini terbukti dengan banyaknya nyawa yang hilang dari atas jembatan ini. Dari mulai bunuh diri, terjatuh, hingga taruhan untuk memperebutkan sepeda motor dengan cara melompat dari jembatan ke laut. Walaupun ada banyak cerita yang menghiasi jembatan ini, namun tetap saja ini merupakan salah satu prasarana transportasi yang diandalkan oleh warga di Kepulauan Riau. Sedikit aneh rasanya jika tidak membahas mengenai jalur yang terhubung dengan Jembatan Barelang ini, ya, jalur Trans Barelang.

Baca Juga: Cirahong, Jembatan Double Deck Satu-Satunya di Indonesia

Jalur yang membentang sejauh 54 km ini memiliki kontur jalan yang lebar dan mulus. Kondisi jalan yang sangat lengang ditambah dengan udara yang sejuk tentu akan memberikan pengalaman tersendiri bagi Anda jika melewati jalur Trans Barelang ini. Jadi, jika Anda berkesempatan untuk mengunjungi Kepulauan Riau dan sekitarnya, jangan lupa menyempatkan diri untuk melihat keindahan lukisan Yang Maha Kuasa dari atas jembatan senilai Rp278 miliar ini.