Beken dengan ‘Atraksi’ Jet Blast, Bandara Princess Juliana Ternyata Pernah Makan Korban Jiwa

Sumber: sintmaartengov.org

Bandara yang satu ini terkenal bukan karena layanannya yang special, melainkan letak geografisnya yang berada di tepi laut dimana itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyak wisatawan yang menantikan pesawat landing dan take off, karena hal tersebut memberikan pengalaman luar biasa, tersembur jet blast! Ya, selamat datang di Bandara Internasional Princess Juliana!

Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Bandara yang masuk ke dalam teritori Belanda, tepatnya di The Caribbean Island of Saint Martin ini memiliki kode IATA SXM. Pada tahun 1942, bandara ini mulanya beroperasi sebagai bandara militer, hingga pada tahun 1943, bandara ini beralih fungsi menjadi bandara untuk penerbangan sipil.

Kemudian pada tahun 1964, bandara ini didesain ulang dan dipindahkan, dengan sebuah bangunan terminal dan menara Air Traffic Controller (ATC) yang baru. Mengingat perkembangan di dunia aviasi global terbilang cepat, maka fasilitas pendukung operasional bandara di-upgrade pada tahun 1985 dan 2001.

Seperti yang sudah disinggung di atas, orang-orang lebih mengenal bandara ini sebagai area untuk ‘menguji’ kekuatan mesin jet, karena para pengunjung Pantai Maho – Pantai yang berada persis di ujung landas pacu Bandara Internasional Princess Juliana – selalu menantikan ‘atraksi gratis nan berbahaya’ dari setiap pesawat yang hendak take off dan menembakkan angin dari mesin jet. Tidak hanya itu, pesawat yang hendak landing pun menjadi salah satu atraksi yang ditunggu oleh pengunjung Pantai Maho, karena mereka bisa melihat lambung pesawat dari jarak yang sangat dekat!

Sumber: Baltimore Post-Examiner

Adapun nama bandara ini sendiri diambil dari salah satu Ratu Kerajaan Belanda yang memerintah sejak 6 September 1948 hingga 30 April 1980, Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau. Putri Juliana sendiri pernah mendarat di bandara ini pada tahun 1944 sebagai Putri Mahkota, dan dari situlah cikal bakal pemberian nama bandara ini.

Menyinggung soal operasional, tidak hanya melayani penerbangan sipil saja, tapi bandara yang memiliki terminal empat lantai yang menawarkan ruang seluas 27000 meter persegi ini melayani penerbangan charter seperti Gol Transportes Aéreos dan Surinam Airways.

Mengingat statusnya yang masuk ke dalam salah satu daftar bandara ekstrem di dunia, bukan berarti bandara yang pada tahun 2015 silam menangani 1.829.543 penumpang dan sekitar 60.000 pergerakan pesawat ini tidak pernah memakan korban jiwa.

Baca Juga: Mendarat Darurat, Pesawat Cessna Gilas Dua Orang di Pantai Caparica

Pada 13 Juli 2017, seorang wisman asal Selandia Baru dinyatakan meninggal setelah dirinya terhempas jet blast yang dihasilkan oleh sebuah Boeing 737 yang hendak take off. Wanita berusia 57 tahun tersebut di nyatakan sebagai korban jiwa pertama yang meninggal akibat jet blast yang mengakibatkan dirinya terpental dan kepalanya menghantam kerasnya aspal.