Tuesday, July 16, 2024
HomeAnalisa AngkutanBerapa Banyak Bahan Bakar yang Dibutuhkan Kereta Api untuk Sekali Jalan?

Berapa Banyak Bahan Bakar yang Dibutuhkan Kereta Api untuk Sekali Jalan?

Selain mengoperasikan KRL melalui anak usahanya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) juga mengoperasikan kereta api diesel yang menggunakan bahan bakar solar dan biosolar. Lantas, berapa banyak bahan bakar yang dibutuhkan kereta api untuk sekali jalan? Bagaimana konsumsi bahan bakarnya dan bagaimana cara mengisi bahan bakar kereta api?

Baca juga: Kereta Pembangkit, Rangkaian Penting yang Selalu Dikait

Seiring waktu, sebagai bagian dari upaya melawan polusi udara, KAI mulai menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan Biosolar B30 sampai yang terbaru B35 di beberapa lokasi Sumatera.

B30 atau B35 sendiri berarti 30-35 persen dari campuran tersebut terdiri dari bahan bakar yang berasal dari sumber nabati atau organik, seperti dari minyak kelapa sawit, jarak, ataupun dari beragam bahan organik lainnya.

Minyak tersebut kemudian melewati proses esterifikasi dengan 70-65 persen bahan bakar minyak berbasis fosil jenis solar. Esterifikasi adalah proses konversi asam lemak bebas menjadi metil ester yang bisa dijadikan biodiesel. B30-B35 yang digunakan oleh PT KAI adalah jenis BBM yang ramah lingkungan.

Biosolar B30 dan biosolar B35 ini memiliki emisi gas buang yang lebih rendah, sehingga dapat membantu mengurangi polusi udara. Namun, bahan bakar ramah lingkungan ini belum tentu dapat menghemat konsumsi bahan bakar kereta api. Butuh studi lebih lanjut untuk menjawabnya.

Terlepas dari itu, sebetulnya, berapa banyak bahan bakar yang dibutuhkan kereta api untuk sekali jalan?

Sebelum menjawab, perlu kita ketahui, dalam menghitung berapa bahan bakar kereta api yang dibutuhkan, tidak serta merta konsumsi bahan bakar per kilometer dikalikan dengan jarak yang akan ditempuh.

Dalam penerbangan, misalnya, banyaknya bahan bakar yang dibawa pesawat harus mencakup tujuh jenis; taxi fuel, trip fuel, contingency fuel (bahan bakar darurat), alternate fuel,  final reserve fuel, additional fuel, dan extra fuel. Untuk kereta, pastinya jauh lebih sedikit dari itu, mencakup trip fuel, langsir fuel, contigency fuel untuk darurat, dan additional fuel untuk jaga-jaga.

Dari keempat itu kemudian dikalkulasi dengan rata-rata konsumsi bahan bakar kereta api, tergantung jenis lokomotifnya. Lokomotif jenis CC 201, misalnya, berbobot 84 ton dengan daya mesin motor diesel 1.950 horse power (HP), memiliki tangki bahan bakar kereta berkapasitas 3028 liter. Kereta tersebut memiliki kecepatan maksimal hingga 120 km per jam dengan konsumsi BBM rata-rata 2,6 liter per km.

Itu berarti, untuk perjalanan kereta api Jakarta – Malang sejauh 905 km, dibutuhkan bahan bakar biosolar B30/B35 sebanyak 2,353 liter untuk trip fuel, ditambah diversion fuel, langsir fuel, dan additional fuel menjadi berkisar 3.000 liter bahan bakar solar dan biosolar.

Baca juga: Mencoba Masuk ke Kabin Lokomotif, Kira-kira Ada Apa Aja Sih?

Cara pengisian bahan bakar kereta api pun juga mudah. Layaknya mengisi bensin kendaraan bermotor pada umumnya. Tinggal buka penutup tangki bensin, dan mulai mengisi. Bedanya adalah letak pengisiannya. Pada pesawat, pengisian BBM tidak dilakukan di hanggar, melainkan di apron dimana mobil pembawa BBM menghampiri pesawat.

Pada kereta api, pengisian bahan bakar kereta tidak dilakukan stasiun melainkan di depo lokomotif tempat lokomotif berada berdasarkan rute atau dinasan kereta api.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru