Berkiblat ke Jerman, Cina Hadirkan Skytrain Generasi Terbaru

Sumber: youtube.com

Cina baru saja dinobatkan sebagai negara ketiga di dunia yang menggunakan teknologi Skytrain setelah beberapa waktu yang lalu, Negeri Tirai Bambu tersebut baru saja menyelesaikan proyek kereta gantung tersebut. Rencananya, kereta yang akan mengular di jalur suspensi tersebut akan menjalani serangkaian uji coba di Qiangdao, Provinsi Shandong, Cina Timur.

Baca Juga: The Dolphin Blue dan Golden Phoenix, Kereta Peluru Terbaru Tembus 400Km Per Jam

Sebagaimana yang KabarPenumpang.com sarikan dari laman vanguardngr.com (26/7/2017), salah satu alasan mengapa moda darat ini diberi nama Skytrain adalah karena kereta ini merupakan sebuah monorel dimana jalurnya sudah ditinggikan dan diketahui memecahkan rekor. Para teknisi mengatakan Skytrain ini dapat beroperasi tiga kali lebih baik daripada kereta bawah tanah biasa. Tidak hanya itu, mereka juga mengatakan kereta ini bisa menanjak hingga gradien 100 meter dengan jarak 1000 meter.

Kereta ini dirancang khusus sebagai salah satu transportasi dengan biaya operasi yang rendah, ditambah dengan bobot moda yang masuk ke dalam kategori lightweight, dan kecepatan sedang diharapkan Skytrain ini bisa diadposi di daerah dengan pemandangan yang indah, seperti di daerah pegunungan atau kota-kota besar yang dihiasi oleh gedung-gedung pencakar langit. Setidaknya, potensi pasarnya akan meningkat jika diadopsi di tempat-tempat tersebut.

Kereta yang diproduksi oleh CRRC Qingdao Sifang Co. Ltd. ini terdiri dari tiga hingga lima gerbong yang mampu menampung kurang lebih 510 penumpang. Seperti yang sudah dijabarkan di atas mengenai daya laju Skytrain, kereta ini mampu menaju dengan kecepatan maksimum 70 km per jam. Liu Yuwen selaku Technical Director dalam proyek ini mengatakan kereta monorel ini dilengkapi dengan teknologi permanent magnet motor terbaru yang akan berpengaruh terhadap pengoperasian yang lebih efisien.

“Ini memungkinkan kereta memiliki kekuatan yang lebih besar, volume fisik yang lebih kecil, tingkat kebisingan yang rendah, serta bobot yang lebih ringan,” tutur Liu seperti yang tertera di laman sumber. Ia menambahkan, kereta ini mampu untuk dioperasikan di daerah pegunungan yang curam dan terjal sekalipun. “Skytrain akan memberi tumpangan yang aman dan nyaman,” tambahnya.

Baca Juga: Tanggula, Stasiun Terbengkalai di Atas Awan

Liu mengaku, penggunaan rel di atas permukaan tanah juga dinilai lebih hemat serta lebih mudah untuk dikelola. Hingga saat ini, baru tiga negara yang mengembangkan teknologi serupa, yaitu Jerman, Jepang, dan juga Cina. Dalam hal ini, Cina menjadikan Jerman sebagai kiblat pengadaan Skytrain, karena pada tahun 1901 silam, pembangunan sistem transportasi serupa diadakan di Negeri Bavaria dan menjadi pionir. Pengadaan kereta dengan jalur di atas permukaan tanah tersebut awalnya dibangun di kota Wuppertal dan hingga kini masih beroperasi.