Bicara Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Lebih Parah dari Jakarta!

Lelah dan frustasi lumrah dialami warga Jakarta dalam menghadapi tingkat kemacetan, apalagi yang namanya macet kini tak lagi kenal waktu, akhir pekan sampai tengan malam pun kecenderungan macet bisa terjadi mulai dari tengah kota sampai daerah pinggir penyangga kota. Tapi apakah Jakarta sendirian dalam menghadapi gejolak macet yang tak tertahankan? Jawabannya jelas tidak, masih banyak kota-kota di dunia yang punya predikat lebih buruk dalam hal kemacetan, dan salah satunya adalah Bangalore di India.

Sensus penduduk India pada tahun 2016 menyebut jumlah populasi di Negeri Anak Benua ini sudah tembus 1,3 miliar jiwa. Kota dengan jumlah penduduk terpada adalah Mumbai dengan populasi 18,4 juta jiwa, sementara kota terpadat kelima adalah Bangalore dengan populasi 11,6 juta jiwa. Ketimbang kota-kota lain di India, Bangalore punya ciri khas tersendiri yang dikenal sebagai pusat perusahaan IT multinasional dan dalam negeri. Bangalore juga dikenal punya bandara internasional tersendiri yang megah, karena merupakan pusat bisnis IT dunia, banyak maskapai internasional yang membuka rute ke Bangalore. Seperti Singapore Airlines yang membuka rute langsung dari Changi ke Bangalore.

bangalore-metro3

Meski dihuni oleh beragam perusahaan besar, seperti Twitter yang menempatkan pusat litbangnya disini, ironisnya infrastruktur transportasi di Bangalore masih jauh dari kata layak. Memang di Bangalore sudah ada angkutan berbasis rel dalam kota, MRT (Mass Rapid Trans), tapi tingkat kemacetan lalu lintas di Bangalore sayangnya terkesan belum mampu dipecahkan. Banyaknya persimpangan tanpa traffic light menambah runyam kemacetan pada jam-jam sibuk. Berdasarkan pengamatan penulis, sebagian besar kendaraan pribadi dan tentunya kendaraan umum di Bangalore mengalami kondisi penyok pada bodi. Ini lantaran seringnya terjadi tabrakan atau gesekan antar kendaraan dalam berjibaku ditengah kepadatan lalu lintas.

bmtc5

Pakar transportasi India, Profesor MN Sreehari pernah memberi pernyataan di situs BBC.com (7/12/2016), Ia menyebut pada tahun 2005 kecepatan rata-rata kendaraan di Bangalore hanya 35 km per jam, dan pada tahun 2014, Sreehari menyebut kecepatan rata-rata kendaraan menurun jadi 9,2 km per jam. Analisa dari MN Sreehari menyiratkan bertabah parahnya kepadatan lalu lintas di Bangalore. Tak heran di setiap pintu keluar outer ring road, antrian bisa mengular hingga 4 – 5 km. Lebih jauh MN Sreehari memperkirakan tingkat kerugian ekonomi yang diakibatkan kemacetan lalu lintas di Bangalore mencapai US$950 juta per tahunnya.

Dampak kemacetan pasti merembet ke hal lain, seperti tingkat polusi. Dan paparan kemacetan di Bangalore faktanya langsung berimbas ke urusan yang satu ini. Peneitian yang dilakukan Indian Institute of Science (India), University of Melbourne (Australia) and Chang’an University (Tiongkok) pada Maret 2016, menyebutkan bahwa tangkat emisi CO2 (karbon dioksida) di Bangalore menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Hasil penelitian menyebut emisi CO2 di Bangalore mencapai 43,83 persen, masih dibawah Hyderabad yang mencapai 56,86 persen. Jadi buat Anda warga Jakarta, Anda tak sendirian menghadapi sengkarut kemacetan khas kota metropolitan.