Bikin Geram, Media Asing Sebut Indonesia Tempat Terburuk untuk Penerbangan!

0
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsdya TNI Bagus Puruhito beserta jajaran TNI tengah menunjukkan serpihan pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC SJ182. Agar meminimalisir kecelakaan pesawat, majelis profesi penerbangan disebut perlu dibentuk untuk menindaklanjuti laporan akhir KNKT. Foto: Twitter @SAR_NASIONAL

Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 dipastikan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pesawat itu hilang kontak dan dipastikan jatuh pada posisi 11 nautical mile di sebelah utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Baca juga: Tiga Fakta Kejadian Aneh Berbalut Mistis Dibalik Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Pesawat yang dipiloti Capt. Afwan tersebut semula dijadwalkan takeoff atau lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 13.25 WIB dan tiba di Bandara Supadio, Pontianak pada 15.00 WIB. Kabar jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ini pun jadi sorotan bukan hanya media nasional, melainkan media-media internasional (media asing); salah satunya Indian Express.

Media asal India ini tidak hanya melakukan memberitakan jatuhnya pesawat nahas rute Jakarta-Pontianak itu, melainkan juga menyoroti seringnya terjadi kecelakaan pesawat di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, kesimpulan dari rentetan kecelakaan yang pernah terjadi di sini berbuah label Indonesia sebagai negara terburuk untuk penerbangan.

Dilansir dari berita di media itu berjudul “Explained: Why Indonesia is the worst place to take a flight”, jatuhnya pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ182 bak pelengkap buruknya catatan keselamatan penerbangan di Indonesia. Tak hanya itu, salah satu media online terbesar di India ini juga menyebut bahwa kecelakaan pesawat yang terjadi juga melibatkan buruknya perawatan, pelatihan pilot, kegagalan komunikasi dan mekanik, serta kontrol lalu lintas udara.

Rentetan keburukan tersebut pun menyebabkan terjadinya 104 kecelakaan dengan sedikitnya 2.353 orang meninggal, begitu data dari Aviation Safety Network. Tak disebutkan dengan jelas angka itu muncul didasari kecelakaan pesawat sejak tahun berapa. Tetapi, satu yang pasti, itu termasuk kecelakaan terbaru yang melibatkan pesawat tua Sriwijaya Air.

Pesawat tua Sriwijaya Air memang tak luput dari sorotan. Menurut mereka, aneh bila sebuah pesawat yang berusia sudah hampir 27 tahun masih dioperasikan maskapai. Sebab, pada umumnya, pesawat komersial akan berhenti mengangkut penumpang usai 25 tahun mengudara.

Meski banyak pendapat menyebut usia pesawat tidak menjadi masalah dan tidak terkait langsung dengan kecelakaan, namun, tetap saja, pesawat yang baru dikirim dari pabrik dengan pesawat lama dengan komponen baru tidaklah sama.

Baca juga: Menakar Kesalahan Prosedur Perawatan Pesawat Nahas Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182

Selain karena masalah perawatan sampai kontrol lalu lintas udara yang buruk, Indonesia juga disebut jadi negara terburuk untuk penerbangan berkat posisinya sebagai negara kepulauan. Disebutkan, kepulauan Indonesia yang membentang dari London-New York ini juga membuat cuaca di sini tidak begitu bersahabat dan menyebabkan rawan terjadinya insiden tersambar petir. Belum lagi ancaman gunung meletus yang terus mengintai.

Terkait penanganan Covid-19 di industri penerbangan, India Express juga meragukan kemampuan Indonesia. Jika sudah begitu, adalah penting untuk meyakinkan segenap insan di luar negeri bahwa industri dirgantara di sini tak seburuk yang mereka gambarkan ke khalayak ramai.

LEAVE A REPLY