Bisnis LCC Tak Selalu Mulus, Kasus Air Berlin Menjadi Contoh

Sumber: frankfurt-airport.com

Ditengah ketatnya kompetisi dunia penerbangan, meski dengan margin keuntungan yang tipis, layanan penerbangan berbiaya rendah atau LCC (Low Cost Carrier) umumnya sanggup bertahan ditengah himpitan. Namun faktanya tak semua LCC dapat berkibar, buktinya LCC asal Jerman, Air Berlin pada hari Selasa lalu telah ‘melempar handuk’ alias menyatakan bangkrut.

Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman skift.com (17/8/2017), pihak Air Berlin dinyatakan bangkrut pada Selasa (15/8/2017) karena sang pemegang saham, Etihad Airways menilai pihak Air Berlin sama sekali tidak memberikan keuntungan dan terlihat hanya akan mengandalkan pinjaman pemerintah untuk terus memperpanjang masa “terbangnya” dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.

Dihimpun dari sumber lain, alasan vokal dibalik bangkrutnya Air Berlin adalah liltan hutang yang semakin mencekik. Terhitung, maskapai ini menanggung total kerugian sebesar 782 juta euro pada tahun 2016 silam. Tidak hanya masalah finansial, tidak disiplinnya Air Berlin juga menjadi faktor pendukung runtuhnya maskapai ini. Terlalu sering terlambat memberangkatkan penumpang (delay) membuat pelanggannya enggan untuk menggunakan jasa mereka kembali. Dari masalah tidak displin ini akhirnya kembali mengarah ke segi finansial dimana pihak maskapai wajib menggelontorkan dana ganti rugi kepada para penumpang dan denda kepada pengelola bandara.

Lufthansa nampaknya menjadi salah satu perusahaan yang serius untuk membantu beberapa bisnis Air Berlin. Ini terbukti dengan peran Lufthansa yang mengambil beberapa slot untuk memberikan kesempatan untuk benar-benar membantu pertumbuhan unit Eurowings yang terkenal dengan penerbangan berbiaya rendah (LCC). Langkah ini juga dapat mendompleng pengenalan rute menuju Amerika bagian Utara. Ini juga merupakan celah bagi Lufthansa mengingat kebangkrutan Air Berlin Plc yang dapat membuka jalan bagi Deutsche Lufthansa AG untuk membuka jalur penerbangan antar benua baru.

EasyJet Plc, LCC asal Inggris juga akan turut serta dalam membantu pertumbuhan unit Eurowings dengan mengedepankan diskon-diskon yang akan mengundang banyak pelanggan. Dengan begitu, Eurowings dapat membuka kesempatan untuk kembali menawarkan penerbangan LCC jarak jauh menggunakan armada milik Lufthansa yang hingga saat ini rute penerbangan mereka sangat terbatas, hanya dari Cologne menuju Bonn di Jerman. Pada saat yang bersamaan, slot penerbangan jarak pendek di Berlin dapat membantu EasyJet bersaing dengan kompetitornya, Ryanair di pasar ekonomi di Benua Biru.

Baca Juga: Load Factor Rendah, Maskapai-Maskapai Ini Tak Lagi Mendarat di Jakarta

Dilansir dari sumber yang sama, pihak Lufthansa mengungkapkan bahwa perusahaan yang berbasis di Cologne, Jerman ini tengah melakukan perbincangan serius mengenai pembelian suku cadang dari saingan nasionalnya, sementara itu EasyJet juga menunjukkan ketertarikannya dalam hal serupa. Kesempatan untuk mengakuisisi Air Berlin sangat dijadikan momentum oleh pihak Lufthansa, dimana perusahaan tersebut dapat meraup 8.600 tenaga kerja tanpa terikat kontrak. Hal tersebut diungkapkan oleh seorang analis dari Sanford C. Bernstein & Co. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan alasan strategis yang dilihat dari pergerakan EasyJet dalam mengembangkan model bisnisnya.

Sebelumnya, pihak Air Berlin berencana untuk melepaskan unit Niki sendiri dari Austria, yang memiliki 21 buah jet Airbus A321, dengan menggabungkannya dengan 14 pesawat dari TUI AG, salah satu operator tur terbesar di Eropa. Meskipun rencana tersebut mengalami kemunduran pada bulan Juni ketika TUI gagal menyetujui persyaratan dengan Etihad, pada hari Selasa mengatakan bahwa pihak TUI AG menyatakan siap untuk berpartisipasi dalam restrukturisasi Air Berlin.

Dirunut dari sejarahnya, Air Berlin berdiri sejak 1971, pada masanya maskapai ini pernah menjadi yang terbesar kedua di Jerman setelah Lufthansa. Bahkan di tahun 2012, Air Berlin yang melayani 52 rute penerbangan domestik dan internasional menempati posisi ketujuh maskapai terbesar di Eropa.