Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies?

Sumber: wallpapercave.com

Siapa yang tidak mengenal Boeing 747, pesawat yang sempat berada di puncak kejayaannya di era 1960 hingga 1990-an. Bagi para pecinta dunia dirgantara, tentu salah satu impian mereka adalah bisa memiliki pesawat berjuluk The Queen of the Skies ini, karena mereka bisa berbangga diri karena memiliki salah satu ikon dunia penerbangan ini. Dan impian para pecinta pesawat terbang untuk bisa memiliki The Queen of the Skies  hampir terealisasi dengan dibukanya pelelangan untuk tiga unit Boeing 747.

Baca Juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman economist.com (26/9/2017), sebuah pengadilan negeri di Shenzhen, salah satu kota besar di Provinsi Guangdong, Cina melelang tiga Boeing 747 milik maskapai Jade Cargo International  yang bangkrut pada tahun 2012 silam. Uniknya, pelelangan tersebut dilakukan melalui situs jual beli online, Taobao.com, yang hampir serupa dengan eBay, Amazon, dan Rakuten. Pada awalnya, pesawat tersebut dilelang secara offline atau pelelangan pribadi. Tapi setelah gagal selama enam kali, barulah pelelangan ini dilakukan secara online. Adapun harga terendah yang ditawarkan pada pelelangan tersebut adalah 122 juta yuan atau setara dengan Rp248 miliar.

Namun Anda jangan dulu kaget, karena kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Tahun lalu, sebuah perusahaan berbasis di Florida yang membeli dan menjual suku cadang pesawat, Concorde Aerospace melakukan pelelangan serupa. Mereka melelang Boeing 747 di eBay seharga US$300.000 atau setara dengan Rp4,1 miliar. Harga rendah yang Concorde tawarkan bukan tanpa alasan, mereka melepas mesinnya dan hanya menjual body-nya saja. Meski begitu, pesawat tersebut tidak kunjung terjual. “Karena ongkos pengirimannya melebihi harga pesawatnya sendiri,” tukas Mert Balta, pendiri Concorde Aerospace.

Tentu ini merupakan sebuah kabar buruk bagi Boeing yang mulai kehilangan pasarnya setelah beberapa  pihak melelang salah satu mahakaryanya. Situasi ini semakin diperkeruh dengan pernyataan United Airlines dan Delta yang mengumumkan bahwa tahun ini merupakan periode terakhir mereka menerbangkan seri Boeing 747. Salah satu vokal yang menjadi titik terjun bebasnya Boeing 747 di pasaran adalah inefisiensinya dalam biaya operasi.

Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Sesuai dengan julukannya “Jumbo Jet”, pesawat ini dinilai terlalu berat ketimbang burung besi lan yang mengaplikasikan twin engine. Selain itu, Boeing 747 juga dinilai boros dalam penggunaan bahan bakar. Sebagai contoh, dalam penerbangan dari New York menuju Los Angeles, Boeing 747 akan menghabiskan 30 persen lebih banyak bahan bakar daripada kompetitornya, Airbus A320 yang diketahui mengunakan twin engine dengan ukuran body yang lebih kecil. Biaya pengoperasian 747 terasa menjadi lebih mahal saat harga minyak dunia melambung di akhir tahun 1990-an.

Selain dua masalah di atas, perubahan pola penerbangan yang terjadi belakangan ini membuat pamor pesawat yang berukuran lebih kecil dari 747 naik drastis, karena pihak maskapai bisa menerbangkan penumpang dengan interval yang lebih pendek daripada harus menunggu bangku The Queen of the Skies terisi penuh. Namun, terlepas dari berbagai alasan pensiunnya Boeing 747, pesawat ini tetap bisa dimanfaatkan oleh tangan-tangan orang kreatif. Diketahui, beberapa pesawat ini bertransformasi menjadi sebuah restoran mie di Korea Selatan hingga sebuah asrama di dekat bandara Stockholm di Swedia.