Boeing Akan Gunakan Sayap Ultra Tipis di Prototipe Pesawat Transonik

Sumber: newatlas.com

Salah satu raksasa manufaktur pesawat, Boeing dikabarkan telah mengambil kesimpulan dari konsep sayap ultra tipis baru yang dirancang untuk meningkatkan kinerja pesawat transoniknya. Penggunaan sayap ultra tipis ini memungkinkan pesawat untuk ngebut hingga kecepatan Mach 0,8 atau yang setara dengan 955 km per jam. Selain itu, versi terbaru dari Transonic Truss-Braced Wing (TTBW) juga dapat mengudara lebih tinggi dan lebih cepat dari varian sebelumnya berkat dukungan truss yang dioptimalkan dan sudut sapuan sayap yang disesuaikan.

Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (9/1/2019), wacana tentang angkutan udara berkecepatan supersonik – atau bahkan hipersonik memang tengah dimatangkan oleh sejumlah produsen pesawat, tetapi ujung tombak nyata dalam teknik kedirgantaraan saat ini adalah dalam penerbangan transonik. Hampir semua yang terbang di luar lingkaran militer (sipil) terjadi di dunia subsonik, artinya, kecepatan di bawah Mach 0,8 atau yang setara dengan 980 km per jam. Namun, di dunia yang sangat kompetitif dari angkutan penumpang dan kargo, itu semua tidak cukup.

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, jika kecepatan suara adalah Mach 1 (1.235 km per jam), mengapa kecepatan subsonik berada di bawah Mach 0,8? Jawabannya sederhana, karena rentang antara Mach 0,8 dan Mach 1,2 adalah apa yang dikenal sebagai transonik. Artinya, rentang kecepatan sesaat sebelum menembus penghalang suara, dan tepat setelah itu ditandai dengan peningkatan hambatan udara dan faktor-faktor lain yang bisa membuat pesawat terguncang.

Para insinyur ingin mendekati kecepatan transonik sedekat mungkin tanpa mendorong penghalang suara, namun itu jauh dari kata mudah – tidak hanya sekedar meningkatkan ‘kasta’ pesawat subsonik menuju transonik. Ketika sebuah pesawat mendekati titik transisi (contohnya subsonik menuju transonik), maka ada beberapa bagian pesawat yang akan melampaui batas, sementara bagian yang lain akan tertinggal dibelakangnya (perubahan struktur dan bentuk pesawat harus menyeluruh dan tidak bisa hanya sekedar mengganti mesinnya saja).

Baca Juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Menurut pihak Boeing sendiri, TTBW pada awalnya dirancang untuk beroperasi dalam kisaran Mach 0,70 hingga 0,75 (835 hingga 895 km per jam). Tetapi ketika menggunakan rangka (airframe) baru, bentang sayap yang beda dan lebih tipis, dan desain yang terintegrasi, maka memungkinkan peningkatan kinerja di segi kecepatan dan ketinggian yang lebih baik. Sebagai informasi tambahan, sayap yang digunakan Boeing untuk TTBW ini dikembangkan oleh NASA sebagai bagian dari program Subsonic Ultra Green Aircraft Research (SUGAR).