Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun

0
Emirates Airbus A380

Presiden Emirates Sir Tim Clark memprediksi akan ada lebih banyak maskapai bangkrut di akhir tahun mendatang. Hal itu dikarenakan industri penerbangan global masih belum akan kembali ke kondisi normal, seperti sebelum adanya wabah Covid-19.

Baca juga: Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak

“Saya harus memberitahu bahwa akan ada korban (maskapai bangkrut). Kami (maskapai) tidak bebas dari ini (ancaman kebangkrutan). Pada akhir tahun, akan ada lebih banyak korban. Orang-orang tidak akan bisa bertahan, bahkan dengan suntikan ekuitas, dana talangan, dan lain sebagainya mereka masih akan tetap dalam kesulitan, masih jauh dari harapan (untuk menghindari kebangkrutan),” katanya dalam webinar yang diselenggarakan oleh Aviation Week belum lama ini, sebagaimana dilaporkan Simple Flying.

“Jika (krisis) terus berlanjut, semua dana talangan yang diterima semua orang (maskapai) akan lenyap. Jika (anjloknya industri penerbangan) berlangsung selama dua atau tiga bulan lagi, mereka bisa memerlukan paket dana talangan lain,” tambahnya.

Dalam catatan presiden yang juga lulusan ekonomi dari University of London tersebut, maskapai penerbangan Eropa sejauh ini sudah maupun akan menerima paket stimulus dari pemerintah masing-masing dengan total sebesar US$33,7 miliar atau sekitar Rp477 triliun (kurs 1 dollar – Rp14.150). Maskapai penerbangan di AS juga demikian. Setidaknya sebanyak US$25 miliar atau Rp354 triliun telah dikucurkan pemerintah sebagai bentuk pelaksanaan dari UU CARES. Namun, tetap saja itu tidak akan cukup.

Kembali lagi, bila industri penerbangan masih tak juga bergerak naik, lanjut Clark, hanya sedikit pemerintah mana pun di dunia yang sanggup untuk merogoh kocek lebih dalam lagi (per dua atau tiga bulan) untuk mencegah maskapai nasional mereka bangkrut. Bila kondisi seperti ini bertahan setidaknya tiga tahun, sebagaimana prediksi banyak pengamat penerbangan global, artinya pemerintah harus menggelontorkan uang hingga jilid ke-12 (asumsi tiga bulan sekali maskapai butuh paket stimulus dan berlangsung selama tiga tahun).

Tak hanya maskapai, dalam pandangan pria 70 tahun yang telah menjabat Presiden Emirates Airlines sejak 2003 lalu itu, unit bisnis lain di industri penerbangan global juga akan terkena imbasnya, mulai dari produsen seperti Airbus dan Boeing sampai lessor.

Terbukti, Airbus dan Boeing, selain telah mengurangi kapasitas produksi, mereka juga telah mem-PHK ribuan karyawan di berbagai pabrik di seluruh dunia. Lessor pun demikian, dengan ketidakmampuan maskapai dalam membayar kredit akibat bangkrut atau manajemen keuangan yang mengharuskan mereka menahan cadangan uang cash, membuat perputaran uang di tubuh lessor kacau. Pada akhirnya mereka juga akan terkena imbas dari musibah ini.

Baca juga: Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi

Senada dengan Clark, CEO Wizz Air, Jozsef Varadi justru memandang persoalan industri penerbangan global lebih rinci lagi. Menurutnya, maskapai akan terkategorisasi menjadi tiga bagian akibat wabah virus corona ini.

“Saya juga berpikir bahwa, mengingat situasi saat ini, Anda mungkin akan melihat maskapai penerbangan terbagi ke dalam tiga kategori. Pertama, maskapai penerbangan yang akan diakuisisi oleh pemerintah. Kedua, maskapai yang dapat menyortir diri mereka sendiri seperti kita (Wizz Air) dan dapat bertahan serta bergerak maju. Ketiga, akan ada maskapai yang terjebak dan kemudian akan bangkrut,” kata bos maskapai Hungaria tersebut.

Leave a Reply