Bukan Concorde, Bell X-1A Jadi Pesawat Pertama di Dunia Tembus Kecepatan Mach 2

0
Bell X-1A berhasil menjadi pesawat yang melesat di kecepatan Mach 2,44, lebih dari Concorde ataupun Tupolev Tu-144. Foto: Chuck Yeager

Tepat hari ini, 67 tahun lalu, bertepatan dengan 12 Desember 1953, Bell X-1A resmi jadi pesawat terbang supersonik pertama yang melampaui dua kali kecepatan suara (Mach 2). Saat itu, pesawat berhasil mencatat rekor kecepatan baru diangka Mach 2,44 atau 2.608 km per jam pada ketinggian 22.800 meter.

Baca juga: X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Dilansir NASA, Bell X-1A sendiri merupakan rangkaian pesawat uji teknologi baru besutan National Advisory Committee for Aeronautics (NACA), Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), dan Bell Aircraft. Sejak program uji coba teknologi baru (supersonik) dimulai pada 1946-1958, ia telah berhasil membangun beberapa pesawat supersonik, seperti X-1, X-1A, X-1B, X-1D, dan X-1E.

Pesawat-pesawat supersonik pertama di dunia yang berhasil melampaui kecepatan suara itu total berhasil melakukan 214 penerbangan dalam rentang waktu tersebut.

Program uji teknologi baru oleh NACA, USAF, dan Bell sendiri pertama kali dimulai pada 14 Oktober 1947 melalui pesawat uji Bell-X1, sebuah pesawat terbang supersonik pertama yang melampaui kecepatan suara mencapai Mach 1,06 atau 1.126 km per jam di ketinggian 13.000 meter

Seiring berjalannya waktu, program lanjutan dari Departemen Aviation Inggris atas proyek rahasia pesawat pertama di dunia yang mampu memecahkan hambatan suara ini, terus mencari formulasi terbaik, sampai akhirnya Bell X-1A lahir pada 2 April 1948.

Saat itu, X-1A (nomor seri 48-1384) dimaksudkan untuk menggali informasi terkait fenomena aerodinamis dengan kecepatan lebih dari Mach 2 atau sekitar 2.451 km per jam, di ketinggian lebih dari 27 km, yang secara khusus menekankan stabilitas dinamis dan beban udara.

Meski memiliki desain lebih panjang dan lebih berat dari X-1 versi awal serta posisi kokpit yang lebih baik, X-1A didukung oleh mesin roket XLR-11 Reaction Motors, mesin yang sama dengan versi sebelumnya. Setelah diuji, hasilnya, pesawat tak sesuai ekspektasi.

Meski demikian, tim peneliti tak patah arang. Selang bertahun-tahun kemudian, X-1A berhasil melesat dengan kecepatan tinggi di bawah “Operation NACA Weep” di awal-awal Desember 1953. Pesawat penelitian supersonik bertenaga roket yang dipiloti oleh Chuck Yeager ini pun mencapai puncaknya pada 12 Desember 1953. Ketika itu, pesawat berhasil mematahkan rekor penelitian sekaligus rekor kecepatan suara sebelumnya saat melesat di kecepatan Mach 2,44 atau 2.608 km per jam saat pada ketinggian nyaris 23 km.

Meskipun sempat lepas kendali saat mencapai kecepatan maksimum, Bell X-1A akhirnya bisa dikuasai oleh pilot.

Sayangnya, pada 8 Agustus 1955 atau kurang dari dua tahun pasca mencatat rekor kecepatan supersonik, Bell X-1A harus menerima kenyataan pahit, ludes terbakar akibat ledakan di bagian tangki bahan bakar saat tengah parkir di kapal induk milik AS, RB-50. Pesawat ini menjadi satu-satunya pesawat model X dalam penelitian tersebut yang keluar dari barisan akibat hangus terbakar.

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pesawat Melesat di Kecepatan Supersonik?

Penelitian kemudian dilanjutkan dengan kehadiran X-1B, X-1D, dan X-1E. Karena satu dan lain hal, proyek penelitian pesawat supersonik bertenaga roket ini pun harus terhenti. Namun, deretan pesawat model X itu sukses memberikan banyak informasi terkait wind-tunnel di udara untuk dicocokkan dengan data penerbangan aktual. Kolaborasi itu sangat berguna untuk merancang pesawat terbang berperforma tinggi atau supersonik di kemudian hari.

Terbukti, bebertapa tahun kemudian, Inggris, yang memprakarsai penerbangan pesawat supersonik pertama seantero bumi, mengguncang dunia usai meluncurkan pesawat supersonik komersial atau berpenumpang, Concorde, pada 2 Maret 1969.

LEAVE A REPLY