Bus 3 Pintu, Calon Primadona Masyarakat Singapura

Sumber: businterchange.net

Sebagai salah satu moda darat yang sering dicari oleh para penumpang, bus tentu saja harus mengalami evolusi dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan jaman. Selain lebih mementingkan keselamatan para penumpangnya, perusahaan produsen bus juga dewasa ini sudah mulai harus memikirkan bagaimana penumpangnya dapat turun dengan cepat tanpa membuat antrian pada kendaraan yang ada di belakangnya.

Pada umumnya, bus memiliki 2 pintu penumpang yang terletak pada bagian depan dan belakang. Namun, baru-baru ini Singapura menguji coba bus dengan 3 pintu, yaitu 1 pintu untuk masuk dan sisanya untuk keluar. Ini bertujuan untuk mempercepat perputaran penumpang yang terjadi di dalam bus. Baik bus maupun pengemudinya akan menjadi bagian dalam studi 6 bulan yang diterapkan. Ada beberapa fitur yang digunakan dalam kendaraan baru ini, yaitu kursi pengemudi yang dapat bergetar, bertujuan agar pengemudi tetap tersadar walaupun ia sedang dalam kondisi mengantuk.

Selain itu ada juga USB Port yang dapat digunakan oleh para penumpang untuk mengisi daya gadget mereka, serta panel elektronik yang dapat menunjukkan lokasi bus dan halte selanjutnya. Terdapat 2 buah bus yang diuji coba, yaitu bus tingkat (double decker) dan bus penumpang biasa (single decker). Bus tingkat yang mulai beroperasi pada Senin (13/3/2017) ini menempuh perjalanan dari Jurong East menuju Toa Payoh, melewati HarbourFront, China Town, dan Orchard Road. Bus tingkat ini dioperasikan oleh Tower Transit Singapore. Berbeda dengan bus tingkat, bus single decker akan mulai diujicoba pada rentan April hingga Juni tahun ini, dan dioperasikan oleh SMRT Buses dan Land Transport Authority (LTA) akan mengumumkan layanan ini di kemudian hari.

Sumber: theonlinecitizen.com
Sumber: theonlinecitizen.com

Bus yang dirilis oleh salah satu firma yang menggeluti bagian mesin, ST Kinetics, turut dilengkapi dengan sistem pendeteksi kelelahan. Alat ini akan memantau gerakan kelopak mata pengemudi dan ekspresi wajah dari pengemudi, lalu akan bergetar apabila si pengemudi mulai mengantuk atau bahkan tertidur. Selain itu juga ada perangkat yang terpasang dalam bus ini, yaitu Mobileye yang akan memperingati pengemudi tentang blind spot yang ditimbulkan, dan akan menampilkannya dalam bentuk audio dan visual dalam kabin pengemudi.

Ada keunikan dari bus ini, dimana jumlah bangku pada bus tingkat 3 pintu ini lebih sedikit daripada bus tingkat biasa, walaupun kedua bus ini merupakan hasil produksi dari pabrik yang sama. Keuntungan dari bus tingkat 3 pintu ini adalah penumpang yang berada di lantai 2 dapat turun menggunakan tangga yang lebih dekat menuju pintu yang ada di bagian belakang, sedangkan yang terjadi pada bus tingkat pendahulunya adalah penumpang dari lantai 2 turun menggunakan tangga yang sama dengan penumpang lain yang hendak naik ke atas.

Dengan diluncurkannya kedua bus ini akan memungkinkan pihak LTA untuk meneliti tanggapan dari berbagai komuter, karena kedua bus ini akan melewati beberapa daerah, termasuk daerah pemukiman dan daerah komersil di Singapura. Pada karnaval bus perdana tahun lalu, 9 dari 10 suara dari 22.000 responden menyetujui tentang pengaplikasian bus dengan tiga pintu ini. Lebih dari 95 persen masyarakat mengatakan bahwa pintu kedua bus ini akan sangat berguna.

Direktur Angkutan Umum LTA, Mr Yeo Teck Guan mengatakan penelitian ini memungkinkan pihak yang berwenang untuk menelaah bagaimana bus dapat beradaptasi dengan infrastuktur yang sudah ada seperti halte bus, permberhentian bus, dan mengamati arus komuter di sana.

“Ulasan dari masyarakat tentang design bus merupakan kunci dari pengadaan sarana transportasi karena kita bergerak maju menuju car-lite society (program pengurangan kendaraan pribadi di Singapura),” tutur Yeo seperti yang dikutip dari laman todayonline.com (13/3/2017). Pada kesempatan yang berbeda, seorang penggemar bus, Cheung Ho Hoi (15) mengatakan dengan pengaplikasian bus 3 pintu ini memungkinkan bus meninggalkan pemberhentian bus lebih cepat. Senada dengan Cheung, Hasyim Ali (55) seorang pengguna jasa komuter mengatakan bus ini menggunakan sistem yang lebih baik. “Seharusnya pembaruan seperti ini sudah ada sejak lama,” tuturnya.