Canggih! Italia Jadi yang Pertama Gunakan Helm Thermal Scanning di Bandara

0
Helm thermal scanner dengan teknologi augmented reality (AR) dan thermal scanner, yang dapat memudahkan petugas berwenang mendeteksi suhu tubuh calon penumpang dalam jarak tiga hingga lima meter sehingga meminimalisir penerbangan dari orang sakit, dalam hal ini pengidap Covid-19. Foto: Kuang-Chi Technology via venturebeat.com

Bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino, Roma, Italia jadi bandara pertama yang menggunakan helm canggih buatan Cina. Dengan teknologi augmented reality (AR) dan thermal scanner, petugas berwenang dapat dengan mudah mendeteksi suhu tubuh calon penumpang dalam jarak tiga hingga lima meter sehingga meminimalisir penerbangan dari orang sakit, dalam hal ini pengidap Covid-19.

Baca juga: Mengenal Bandara Terbesar dan Tersibuk di Italia, Leonardo da Vinci–Fiumicino

Helm canggih N901 yang dibuat di Shenzhen, Cina ini dinilai lebih baik ketimbang teknologi serupa dari Jerman dan Amerika Serikat (AS), yakni kacamata M400 AR Vuzix dan Onsight Cube Librestream yang diluncurkan nyaris bersamaan dengan “smart helmet” keluaran Kuang-Chi Technology tersebut pada awal Maret lalu.

Dikutip dari venturebeat.com, helm yang disebut mirip helm ‘Robocop’ ini sangat fungsional dalam mendeteksi orang dengan suhu di atas normal. Cara kerjanya, kamera inframerah yang memindai suhu tubuh langsung dipindai dalam sebuah display (seperti kaca pelindung helm sepeda motor) dengan tampilan color waveguide atau tampilan berdasarkan suhu tubuh melalui warna, seperti merah, kuning, dan hijau.

Selain itu, dalam display tersebut juga tertera suhu berbentuk angka. Jadi, begitu “smart helmet” buatan Cina itu mendeteksi suhu di atas batas normal, secara otomatis sensor akan mengaktifkan alarm visual dan sonik (bunyi) untuk mengingatkan adanya potensi bahaya. Dengan begitu, petugas tidak memerlukan titik fokus tingkat tinggi, cukup membagi pandangan ke segala penjuru dan helm tersebut akan mengingatkannya bila terdapat potensi bahaya.

Menariknya, “smart helmet” ini juga tersedia dalam mode “kerumunan besar” yang dapat memudahkan proses pemindaian suhu saat crowded. Selain dikelola langsung dalam bentuk data real di display atau kaca depan helm, data juga diolah atau terhubung dengan ke database pengenal wajah untuk melacak identitas orang dinilai berpotensi membahayakan dengan suhu tertentu. Proses pengiriman data dapat dilakukan dengan secepat mungkin dengan teknologi 5G, Wi-Fi, dan bluetooth yang disematkan dalam “smart helmet”.

Baca juga: Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri

Saat ini, bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino disebut baru memiliki tiga buah helm canggih buatan Kuang-Chi Technology, Cina tersebut. Namun, otoritas bandara berencana akan menambah kuantitas penggunaan saat lalu lintas udara perlahan pulih. Di samping itu, di tingkat nasional, opsi untuk menerapkan teknologi serupa di bandara lain juga terbuka, dengan bandara tersibuk di Italia itu (Leonardo da Vinci–Fiumicino) sebagai role modelnya.

Sebelumnya, Cina dilaporkan telah menerapkan teknologi modern untuk mendeteksi warga yang terkena virus corona. Tidak lagi dengan thermal scanner gun atau thermal gun, namun dengan helm pintar. Dengan perangkat pintar ini, diharapkan mampu mengurangi penyebaran virus corona di tempat umum. Helm pintar dilengkapi dengan kamera inframerah yang mampu mendeteksi suhu seseorang. Di Cina sendiri, helm telah digunakan aparat kepolisian di Chengdu, Provinsi Sichuan, Cina, serta di beberapa titik vital publik di berbagai wilayah lainnya.

Leave a Reply