Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

0
Ilustrasi maskapai Indonesia. Foto: RMOL

Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, industri penerbangan Indonesia mulai kembali bergairah. Data perusahaan itu menunjukkan, sepanjang 2020 jumlah penerbangan harian sudah mencapai 50 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau IATA, secara tidak langsung, tetap pesimis bahwa industri penerbangan Indoensia dan dunia akan kembali pulih dalam waktu dekat.

Baca juga: Kabar Baik dari Hasil Kajian Boeing: Industri Penerbangan Butuh 763.000 Pilot

Dalam sebuah rilis yang diterima redaksi, selain industri penerbangan Indonesia mulai kembali bergairah, Cirium juga menyebut kemungkinan adanya kecenderungan baru perjalanan penumpang. Hanya saja, tak disebutkan dengan lebih rinci kecenderungan perjalanan apa yang dimaksud.

“Meskipun akan ada peluang pertumbuhan, dampak Covid-19 berarti lanskap perjalanan yang berbeda kemungkinan akan muncul,” kata Rahul Oberai, Managing Director Asia-Pacific of Cirium.

Sejalan dengan data dari Cirium, Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau biasa disebut AirNav Indonesia juga mencatat peningkatan pergerakan pesawat pasca mencapai titik terdalam saat pengetatan perjalanan udara dilakukan pada April-Mei lalu.

Dikutip dari laman resmi perusahaan, AirNav mencatat ada total 1.202.749 pergerakan pesawat sepanjang tahun 2020, atau minus 43 persen dari angka tahun sebelumnya mencapai nyaris 2,1 juta pergerakan.

Disebutkan, sejak Januari sampai bulan Mei 2020, tren pergerakan pesawat terus menurun hingga ke titik terdalam di bulan Mei, yakni minus 84 persen dari bulan yang sama di tahun lalu. Barulah, pasca berlalunya bulan itu, sekalipun sempat stagnan pada bulan September-Oktober, pergerakan pesawat terus meningkat. Puncaknya, pada bulan Desember, pergerakan pesawat berada di posisi minus 34 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019.

Bila dirinci, seperti banyak dugaan pengamat, perjalanan domestik akan tumbuh lebih cepat dibanding perjalanan internasional. Secara year to year (yoy) 2020 dibandingkan dengan 2019, perjalanan domestik turun 40 persen, sedangkan internasional penurunannya mencapai 67 persen.

Walau masih berada di level minus 43 persen dibanding total pergerakan tahun 2019, namun, Indonesia rupanya masih lebih baik ketimbang negeri tetangga, seperti Singapura yang mencatat minus 67 persen menjadi hanya sekitar 125 ribu pergerakan pesawat dan Thailand yang mencatat minus 57 persen menjadi hanya hampir 400 ribu pergerakan pesawat sepanjang 2020.

Baca juga: Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia

Ditataran regional, Asia Pasifik juga mencatat total pergerakan lebih baik ketimbang Amerika Latin dan Eropa. Dari data yang dihimpun AirNav, secara akumulasi, regional Asia Pasifik mengalami penurunan yoy sebesar minus 47 persen. Sedangkan di regional Amerika Latin sebesar minus 55 persen dan di regional Eropa bahkan mencapai minus 56 persen.

Kendati demikian, baik itu peningkatan pergerakan pesawat di Indonesia dari sejak bulan Mei ataupun peningkatan pergerakan pesawat di seluruh dunia, tetap saja, jumlah totalnya masih jauh dari harapan atau belum cukup mendekati persentase di 2019. Tak ayal, pada November lalu, IATA bisa dibilang pesimis dan melihat paling cepat jumlah penumpang akan kembali ke titik seperti di 2019 pada 2024 mendatang.

LEAVE A REPLY