Curhat Pilot Senior Akibat Pandemi, Jam Terbang Rendah, Serba Lupa, dan Seperti Pertama Kali Terbang

0
Ilustrasi pilot memanfaatkan glass cockpit. Foto: Ashwin Ram via Flight Global

Pandemi virus corona membuat frekuensi penerbangan anjlok. Selain berdampak ke revenue maskapai, sepinya penerbangan juga membuat pilot nyaris kehilangan sentuhan terbaik. Setidaknya, itulah pengalaman pilot senior salah satu maskapai besar Asia, Ashwin Ram.

Baca juga: Selain di Pakistan, Pilot Berlisensi Palsu Ternyata Lebih Banyak di India

Dilansir Flight Global, Senior First Officer (SFO) yang biasa menerbangkan Airbus A330 and A350 ini mengaku sangat terpukul dengan pandemi Covid-19. Sebab, virus yang diduga berasal dari Wuhan, Cina itu bukan hanya membuatnya kehilangan banyak pemasukan, melainkan juga kehilangan kemampuan terbang.

Tak main-main, kemampuan Ashwin saat pertama kali mulai masuk ke kokpit lagi, belakangan ini, diakui sama seperti kemampuan saat ia baru diterima kerja dan mulai melakukan penerbangan pertama. Parahnya lagi, kemampuan di sini terkait dua hal, teknis dan non teknis atau insting, seperti kemampuan membaca situasi, memecahkan masalah, dan insting tajam dalam mengambil keputusan.

Di luar pandemi virus corona, Ashwin biasanya sudah mencapai 500-600 jam di bulan Agustus. Bandingkan dengan kondisi Agustus di tahun ini yang bahkan belum mencapai 100 jam. Terpaut jauh, bukan? Cukup wajar bila kondisi itu membuatnya seperti kehilangan sentuhan terbaik.

Guna mengatasi hal itu, Ashwin mengaku mau tak mau harus sering-sering ke simulator. Selain itu, maskapai tempatnya bekerja juga membuat program pelatihan berbasis simulator yang dirancang khusus untuk membantu pilot mencapai level terakhir sebelum Covid-19 melanda.

Fokus perhatian program tersebut berupa banyak hal, mulai dari basic standard operating procedures and preparation for the flight, visual circuit patterns, engine failure, high- and low-energy go-arounds, system failures (like hydraulics) requiring ECAM management, dan beberapa instrument approaches.

Baca juga: Pertama di Dunia, Pramugari Wizz Air Bisa Gantikan Pilot Kemudikan Pesawat

Meskipun sudah berusaha mendapatkan kembali kemampuan terbaik, rupanya hal itu belum cukup. Ketika pertama kali masuk ke kokpit untuk memulai penerbangan perdana di tengah pandemi Covid-19, ia mengaku jauh lebih lambat dan cenderung butuh waktu hanya untuk memastikan bahwa ia melakukan langkah-langkah pengoperasian pesawat dengan tepat. Kondisi tersebut mirip saat dirinya baru bergabung ke maskapai dan pertama kali menerbangkan pesawat.

Atas pengalamannya itu, ia pun ingin sedikit berbagi agar pengalaman pertama kembali ke kokpit tetap aman, khususnya bagi pilot yang tak punya akses ke simulator. Mereka bisa memulai dengan memvisualisasikan tata letak kokpit, prosedur terbang, hingga membaca buku flight crew operating manual dan company manual.

Leave a Reply