Daftar Maskapai Terdepan yang Gunakan Bahan Bakar Berkelanjutan, Tak Satupun dari Asia

0
Ilustrasi bahan bakar amonia sebagai alternatif bahan bakar berkelanjutan pesawat di masa mendatang. Foto: businesstraveller.com

Dunia berlomba-lomba untuk membuat penerbangan menjadi ramah lingkungan. Ditargetkan, tahun 2050 mendatang moda transportasi massal di dunia, termasuk pesawat, sudah bebas emisi.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia. Tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia.

Perlahan tapi pasti, transisi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar berkelanjutan nan ramah lingkungan sudah dimulai maskapai sejak beberapa tahun lalu. Setidaknya, ada lebih dari 30 maskapai yang sudah memulai proyek hijau mereka. Namun, hanya ada beberapa maskapai yang konsisten menjalankannya sampai dunia benar-benar bisa bebas dari emisi.

Dilansir dari Simple Flying, beberapa maskapai yang konsisten untuk terus menguji coba atau sudah menggunakan bahan bakar berkelanjutan tersebut, termasuk American Airlines, Alaska Airlines, JetBlue Airways, United Airlines, Delta Air Lines, KLM, Finnair, dan SAS Scandinavian Airlines.

Musim panas tahun ini, produsen solar dan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) terbesar di dunia, Neste, mulai memasok bahan bakar nabati ke tiga maskapai besar AS, American Airlines, Alaska Airlines, dan JetBlue Airways, untuk penerbangan dari Bandara San Fransisco (SFO). Dalam proyek yang dikenal sebagai “climate quantum leap” ini, perusahaan asal Finlandia itu mulai mengirimkan SAF ke SFO melalui pipa.

Ketiga maskapai tersebut sudah menandatangani perjanjian untuk menggunakan bahan bakar ramah lingkungan yang terbuat dari limbah dan sisa makanan buatan Neste. Bahan bakar ramah lingkungan itu akan terus digunakan di setiap perjalanan udara dari SFO.

Selain ketiga maskapai AS itu, Neste juga bermitra dengan maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, KLM. Maskapai yang belum lama ini merayakan hari jadinya yang ke-101 tersebut nantinya bakal menggunakan bahan bakar berkelanjutan buatan Neste mulai 2022 mendatang, usai pembelian 75.000 ton biofuel diteken. Bahan bakar ramah lingkungan KLM nantinya akan terpusat di Bandara Schiphol.

Selain bermitra dengan Neste, KLM juga mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan secara mandiri. Hal itu untuk memastikan beberapa penerbangan KLM menggunakan biofuel. Atas inisiatif tersebut, KLM tercatat sebagai satu-satunya maskapai penerbangan Eropa yang menggunakan biofuel di rute antarbenua, yakni Amsterdam – Los Angeles.

Tetapi, tak lama lagi, Finnair mungkin bakal mensejajarkan diri dengan KLM, mengingat maskapai tersebut sudah lama menguji coba penerbangan lintas benua, antara Helsinki – San Fransisco, menggunakan biofuel.

Maskapai penerbangan pada umumnya terkendala di biaya sebelum mulai menggunakan bahan bakar berkelanjutan. Sebab, investasinya empat kali lipat per penerbangan dari bahan bakar fosil. Namun, hal itu nampaknya bisa disiasati dengan baik oleh SAS Scandinavian Airlines.

Alih-alih mengeluarkan dana ekstra, maskapai tersebut justru memanfaatkan psikologi masyarakat Skandinavia yang selalu merasa bersalah atas kerusakan alam. Sejak September 2019, penumpang SAS diizinkan membayar lebih untuk mendorong maskapai menggunakan bahan bakar ramah lingkungan sebelum penerbangan dimulai. Cukup inovatif, bukan?

Baca juga: Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia

Bergeser kembali ke Negeri Paman Sam, pada tahun 2019, United Airlines mulai menguji coba biofuel di bawah program “Flight for the Planet” dari Chicago ke Los Angeles, menggunakan 70 persen bahan bakar fosil dan 30 persen biofuel.

Pada tahun yang sama, maskapai tersebut telah menganggarkan US$40 juta untuk proyek percepatan produksi biofuel. Selain itu, maskapai juga setuju untuk membeli hingga 10 juta galon SAF selama dua tahun ke depan. Rekan senegara maskapai itu, Delta Air Lines, juga telah menandatangani perjanjian untuk membeli 10 juta galon per tahun. Namun, hanya menyisihkan $2 juta untuk penelitian SAF.

Leave a Reply