Demi Raih Modal Lawan Corona, Bos Virgin Atlantic dan Virgin Australia Gadaikan Pulau Pribadi

0
Sumber: istimewa

Konglomerat asal Inggris yang juga pemililk maskapai Virgin Atlantic dan Virgin Australia, Richard Branson, mengaku akan menawarkan pulau pribadi miliknya di Necker Island, Karibia kepada Pemerintah Inggris dan Australia sebagai jaminan. Hal itu dilakukan semata agar dua maskapai miliknya bisa segera mendapatkan suntikan modal demi kelangsungan hidup perusahaan di tengah ketidakpastian bisnis penerbangan akibat pandemi virus Cina.

Baca juga: Richard Branson – Sosok Pengidap Disleksia di Balik Nama Besar Virgin Ltd

“Kelangsungan hidup Virgin Atlantic dan Virgin Australia penting untuk memberikan kompetisi yang sangat dibutuhkan kepada British Airways, anak perusahaan IAG (ICAGY), dan Qantas (QABSY). Jika Virgin Australia menghilang (bangkrut), Qantas akan secara efektif memonopoli langit Australia,” katanya, sebagaimana dikutip dari CNN Internasional.

Mengingat begitu krusialnya posisi Virgin Atlantic dan Virgin Australia dalam ekosistem bisnis penerbangan di Inggris dan Australia, Branson tanpa berpikir panjang menawarkan pulau pribadi miliknya sebagai jaminan. Asalkan, dengan itu, suntikan dana sebanyak-banyaknya bisa mengalir deras. Sejauh ini, ia sudah menggelontorkan sekitar $250 juta atau Rp 3,8 triliun (kurs Rp15,403) ke Virgin Group. Tentu saja angka yang cukup kecil bila dibandingkan suntikan modal lainnya yang didapat sebuah perusahaan penerbangan.

Singapore Airlines (SIA), misalnya, melalui Temasek International, pemilik saham mayoritas (55 persen) Singapore Airlines (SIA), dan beberapa perusahaan lainnya dikabarkan akan mendapatkan dana talangan sebesar 19 miliar dolar Singapura atau Rp218 triliun (kurs Rp11.292) ke maskapai flag carrier Singapura tersebut. Bila terwujud, hal itu digadang-gadang akan menjadi langkah penyelamatan terbesar terhadap sebuah maskapai di tengah wabah virus corona.

Demikian juga dengan EasyJet, maskapai asal Inggris yang juga telah mendapatkan suntikan modal sebesar $746,6 juta atau Rp11,4 triliun (kurs Rp15.403) dari pemerintah Inggris melalui Covid Corporate Financing Facility atau maskapai-maskapai di Amerika Serikat (AS) yang masing-masing akan mendapatkan bailout sebesar puluhan miliar dolar.

“Realitas krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat banyak maskapai penerbangan di seluruh dunia membutuhkan dukungan pemerintah dan banyak yang telah menerimanya. Tanpa itu tidak akan ada kompetisi yang tersisa dan ratusan ribu pekerjaan akan hilang,” ujar Branson.

Akan tetapi, langkah Branson untuk mendapatkan suntikan modal dari pemerintah Inggris justru mendapat cibiran dari masyarakat. Penyebabnya, Branson dituding menghindar dari kewajiban pajak di Inggris dengan tinggal di Necker Island, Karibia. Padahal, Inggris menjadi salah satu ladang bisnis pengusaha yang mempekerjakan 70.000 orang di 35 negara tersebut.

Meski demikian, ia bersama perusahaannya pun, dalam hal ini Virgin Atlantic, tetap terus berikhtiar mendapatkan dana talangan dari pemerintah Inggris. Bahkan, kantor berita kenamaan di Inggris yang baru diakuisisi media massa terbesar di Jepang, Financial Times, melaporkan bahwa Virgin sebetulnya sudah hamper mendapatkan suntikan modal, namun saying proposal pinjamannya ditolak.

Penolakan proposal pinjaman Virgin oleh pemerintah Inggris tersebut bukan karena pemerintah tak memiliki cukup modal, melainkan angkanya terlalu kecil. Oleh karenanya, mereka (Virgin Atlantic) pun diminta untuk merevisi nilai pinjaman menjadi sebesar $622,2 juta Rp9,6 triliun.

Baca juga: IATA: Maskapai Kehilangan Revenue dari Penumpang Sebesar 55 Persen

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri, belum lama ini telah merilis analisis terbaru yang menunjukkan lesunya penerbangan akibat pandemi corona. Jumlahnya tak main-main, maskapai dinilai akan kehilangan sekitar US$314 miliar atau Rp4.895 triliun pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019.

Nyaris sebulan sebelum IATA merilis analisa terbarunya, Airline Passenger Experience Association (APEX) telah lebih dahulu menyerukan pemerintah global untuk membantu upaya penyelamatan industri penerbangan di tengah wabah virus corona atau COVID-19. Menurut asosiasi yang berdiri sejak 1979 tersebut, upaya penyelamatan maskapai dapat dicapai lewat kucuran dana senilai Rp3.805 triliun.

Leave a Reply