Di 2020, Luksemburg Jadi Negara Pertama yang Gratiskan Transportasi Massal di Dunia

(Archdaily)

Menjadi salah satu negara terkecil di Eropa, Luksemburg mengalami kemacetan lalu lintas yang cukup besar. Dari studi yang dilakukan menunjukkan pengemudi di ibukota menghabiskan rata-rata 33 jam dalam kemacetan tahun 2016 lalu.

Baca juga: Pemkot Berlin Luncurkan Layanan Transportasi Umum Gratis untuk Pelajar

Apalagi negara yang memiliki luas 2586 kilometer persergi tersebut memiliki penduduk sebanyak 600 ribu orang dengan 200 ribu diantaranya pergi bekerja ke negara tetangga setiap harinya. Bahkan Luksemburg adalah satu diantara negara terkaya di Eropa dengan PDB per kapita tertinggi di Uni Eropa.

“Luksemburg adalah tempat yang sangat menarik untuk pekerjaan,” jelas Geoffrey Caruso, seorang profesor di Universitas Luxembourg dan Institut Penelitian Sosial-Ekonomi Luksemburg.

Tetapi dengan ‘booming ekonominya’ dan konsentrasi pekerjaan yang tinggi telah menyebabkan masalah kemacetan. Kemacetan yang menghabiskan 33 jam tersebut lebih buruk dibandingkan Kopenhagen dan Helsinki yang memiliki populasi sebanding dengan Luksemburg.

Di dua negara ini, pengemudi hanya menghabiskan waktu rata-rata 24 jam dalam perjalanannya. Karena masalah kemacetan ini, pemerintah Luksemburg berupaya memprioritaskan lingkungan dan mengakhiri kemacetan lalu lintas terburuk di dunia.

KabarPenumpang.com merangkum dari cnn.com, Luksemburg akan diatur menjadi negara pertama di dunia yang membuat semua transportasi publiknya gratis. Tarif kereta, trem dan bus pada musim panas mendatang akan diubah.

Pada musim ini, transportasi gratis sudah diberikan kepada anak-anak dan remaja di bawah usia 20 tahun. Siswa sekolah menengah dapat menggunakan angkutan gratis antar lembaga dan rumah mereka.

Baca juga: Beli Sepatu Adidas Dapat Tiket Gratis Naik Transportasi Umum di Berlin

Sedangkan penumpang lain hanya membayar €2 atau sekitar Rp31 ribu untuk perjalanan selama dua jam. Nantinya pada rencana yang tengah dalam pembicaraa, pada tahun 2020 mendatang semua tiket akan dihapuskan untuk menghemat koleksi tiket dan pengawasan pembelian tiket. Ini juga masih memikirkan gerbong kereta untuk kelas satu dan dua. Selain itu juga ada kekhawatiran yang secara tidak sengaja menghalangi orang yang biasa berjalan kaki atau bersepeda di perkotaan.

“Daripada berjalan 500 meter, Anda melihat bus datang dan Anda berkata, ‘Saya (bisa) naik dan bepergian sejauh 500 meter karena gratis,'” kata Caruso.