Keberhasilan sebuah bandara dalam menangani ribuan tas setiap jamnya bergantung pada infrastruktur bawah tanah yang kompleks. Beberapa bandara di Asia dan Eropa secara konsisten menempati peringkat teratas dunia dalam kategori ini, membuktikan bahwa investasi pada teknologi sensor dan kecerdasan buatan (AI) adalah kunci utama.
Bandara Internasional Changi (SIN), Singapura
Changi sering kali dianggap sebagai standar emas dalam segala aspek layanan bandara, termasuk bagasi. Sistem penanganan bagasi di Changi adalah sebuah keajaiban teknik yang sangat otomatis. Bandara ini menggunakan sistem Inter-Terminal Baggage Transfer yang terdiri dari jaringan ban berjalan (conveyor belt) dan kendaraan otomatis berkecepatan tinggi yang menghubungkan keempat terminalnya.
Keunggulan Changi terletak pada transparansi dan kecepatannya; penumpang sering kali mendapati bagasi mereka sudah tersedia di carousel sesaat setelah mereka melewati pemeriksaan imigrasi. Mereka juga menggunakan teknologi pemindaian bagasi 3D dan sistem pelacakan otomatis yang meminimalkan risiko tas tertinggal saat transit antar-terminal.
Bandara Internasional Incheon (ICN), Korea Selatan
Incheon secara konsisten memenangkan penghargaan untuk penanganan bagasi terbaik di dunia. Rahasianya terletak pada Baggage Handling System (BHS) yang memiliki tingkat kesalahan hampir nol persen—hanya sekitar 0,0001 persen tas yang mengalami kendala.
Sistem di Incheon dirancang untuk menangani lebih dari 60.000 tas per jam. Dengan panjang ban berjalan yang mencapai puluhan kilometer di bawah tanah, sistem ini dilengkapi dengan sensor pintar yang dapat mendeteksi tujuan setiap tas dalam hitungan milidetik. Keandalan Incheon sangat terasa bagi penumpang transit; sistem mereka memastikan bahwa meskipun waktu transit sempit, tas penumpang akan berpindah ke pesawat berikutnya dengan akurasi yang luar biasa.
Bandara Internasional Kansai (KIX), Jepang
Kansai memegang rekor yang sangat prestisius: sejak bandara ini dibuka pada tahun 1994, mereka mengklaim tidak pernah menghilangkan satu pun tas milik penumpang. Prestasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga budaya kerja yang sangat teliti.
Di Kansai, staf penanganan bagasi dilatih untuk memperlakukan tas penumpang dengan sangat hati-hati—bahkan sering terlihat staf yang mengelap tas yang basah karena hujan atau mengatur posisi gagang tas agar mudah diambil oleh penumpang di carousel. Ketelitian manusia yang dipadukan dengan manajemen logistik yang ketat menjadikan Kansai bandara paling tepercaya di dunia untuk urusan keamanan barang bawaan.
Bandara Internasional Hong Kong (HKG), Cina
Bandara Hong Kong mengandalkan sistem Radio Frequency Identification (RFID) secara menyeluruh untuk melacak bagasi. Dengan stiker RFID, setiap tas dapat dilacak secara real-time di sepanjang jalur sistem penanganan bagasi yang luas. Hal ini secara signifikan mengurangi tingkat kehilangan tas karena sistem dapat langsung mengetahui jika ada tas yang keluar dari jalurnya. Selain itu, HKG juga memelopori layanan In-town Check-in, di mana penumpang bisa menitipkan bagasi mereka di stasiun kereta pusat kota berjam-jam sebelum penerbangan, dan sistem logistik bandara akan memastikan tas tersebut sampai ke pesawat yang tepat.
Keberhasilan bandara-bandara ini menunjukkan bahwa penanganan bagasi terbaik bukan hanya soal seberapa cepat tas keluar di carousel, tetapi soal keandalan sistem pelacakan dan integritas staf di lapangan. Changi, Incheon, Kansai, dan Hong Kong telah membuktikan bahwa dengan kombinasi otomatisasi canggih dan manajemen yang disiplin, kecemasan penumpang akan kehilangan koper dapat dihilangkan sepenuhnya.
Bandara Zurich Swiss Punya AirPortr, Solusi Bagasi Pintar Bebas Tenteng Tas/Koper
