“Dibenci Tapi Masih Dicari,” Inilah Rekam Jejak Metro Mini

Siapa tak kenal Metro Mini, bagi warga Jakarta bus angkutan dalam kota ini seolah sudah menjadi trademark. Dikenal dengan armada yang kebanyakan sudah tak layak operasi, dan aksi sopirnya yang ugal-ugalan, identitas Metro Mini faktanya masih begitu lekat dalam moda transportasi masyarakat Ibukota. Ditengah ketatnya persaingan transportasi di Jakarta, bisa dikata nasib Metro Mini seperti “dibenci tapi masih dicari.”

Walau tertinggal dari Kopaja (Koperasi Angkutan Jakarta), manajemen Metro Mini yang terkesan lamban dan tertatih sejak tahun 2015 mulai mengoperasikan bus dengan fasilitas AC. Dibalik sengkarutnya Metro Mini, tahukah bahwa bus bercat merah ini sudah hadir sejak era tahun 60-an. Merujuk ke sejarah, hadirnya armada Metro Mini terkait langsung dengan persiapan Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces (Ganefo) di tahun 1962. Ganefo . Ganefo merupakan ajang olahraga yang diselenggarakan Presiden Soekarno sebagai tandingan dari Olimpiade.

Metro Mini di tahun 80-an.
Metro Mini di tahun 80-an.

Sebelum hadirnya Metro Mini, moda angkutan di Jakarta masih dominan mengandalkan oplet (seperti digunakan di film Si Doel Anak Sekolahan). Di awal tahun 60-an memang sudah ada bus besar untuk angkutan di Jakarta, tapi masih sedikit. Dengan kondisi serba terbatas, padahal Jakarta akan menjadi tuan rumah hajatan besar, lantas Soekarno memerintahkan Wali Kota Jakarta (saat itu belum ada jabatan Gubernur) Sumarno untuk menyediakan lebih banyak armada. Prinsipnya harus diupayakan tersedianya armada untuk mengangkut atlet dari berbagai negara dari penginapan ke arena pertandingan.

Pasca Ganefo rampung, armada Metro Mini yang saat itu disebut bus merah telah beredar tanpa ada manajemen yang menangani. Dengan kondisi tersebut Wali Kota Henk Ngantung memerintahkan beberapa perusahaan bus seperti Arion untuk mengelolanya. Sempat berjalan beberapa waktu, lama kelamaan perusahaan bus besar ini terlihat tidak sanggup, maklum jumlah armada Metro Mini mencapai 6 ribu unit. Baru kemudian pada era Gubernur Ali Sadikin dan Jakarta sudah berbentuk Daerah Khusus Ibu Kota, maka di sekitar tahun 1976 dibentuk PT Metro Mini untuk menaungi bus-bus tersebut.

Metro Mini AC.
Metro Mini AC.

Banyak yang membenci kehadiran Metro Mini. Namun, tak sedikit yang mencari. Harus diakui, cuma Metro Mini yang menguasai jalanan, karena memiliki rute trayek terluas dibanding moda transportasi di segmen bus mini. Selain itu, tarif angkutan ini juga terbilang murah.

Dewan Pengurus Pusat (DPP) Organda mencatat, jumlah Metro Mini terus menyusut. Dari enam ribu unit pada tahun 1962-an, hanya tersisa 3.168 unit pada tahun 2013. Jumlah ini menyusut lagi pada tahun 2014 menjadi 1.672 unit dan dipastikan akan terus menyusut akibat terlibas persaingan antar moda yang tak dapat ditahan karena perubahan peta industri transportasi.