Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

0
Sayap pesawat 777X yang memiliki fitur lipat. Foto: Screenshot Youtube Boeing

Setelah Jumat lalu sempat tertunda akibat cuaca tak bersahabat, pesawat terbaru Boeing akhirnya sukses melakukan uji coba penerbangan perdananya, Sabtu lalu, setelah mengudara selama empat jam dari Boeing Everett Factory dan mendarat di Paine Field, Seatlle. Model teranyar dari keluarga 777 tersebut diklaim Boeing sebagai pesawat komersial pertama dengan ujung sayap lipat.

Baca juga: ‘Move on’ dari Kasus 737 MAX, Boeing Siap Uji Terbang Perdana Seri 777X

“Ini tonggak utama untuk program pesawat 777X memulai langkah ke tahap berikutnya yakni pengujian pamungkas untuk mendapatkan sertifikasi dan kemudian pengiriman ke pelanggan pada 2021,” kata Boeing dalam tweet-nya setelah uji coba, seperti dikutip dari cnet.com, Senin, (27/1).

Seperti Boeing 787 Dreamliner, Boeing 777X terbuat dari bahan komposit dan memiliki jendela yang lebih besar serta desain kabin yang telah disempurnakan. Selain unik dengan ujung sayap lipatnya, pesawat tersebut juga mampu mengangkut lebih banyak orang dan terbang lebih jauh dari model 777 lainnya, yang mengukuhkannya menjadi pesawat bermesin ganda paling efisien di dunia.

Diantara sederet hal baru pada 777X, fitur ujung sayap yang dapat bergerak melipat (folding wingtip) dinilai sebagai fitur paling menonjol. Dengan fitur tersebut, pesawat dimungkinkan untuk menjadi lebih ramping untuk parkir di apron bandara, dari semula 235 kaki menjadi hanya di bawah 213 kaki.

Boeing beralasan, bahwa fitur tersebut belajar dari insiden Airbus A380 yang memaksa bandara melakukan modifikasi mahal ketika pesawat dua tingkat dengan bentang sayap sejauh 261 kaki tersebut memulai debutnya pada 2007 silam.

Nantinya, pesawat yang dirancang untuk bersaing dengan Airbus A350 tersebut, akan memiliki dua model. Model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km.

Sebelumnya, pesawat ini digadang untuk pertama kali akan melakukan uji terbang perdana pada pertengahan tahun 2019, berbarengan dengan event Paris AirShow 2019 (17-23 Juni 2019). Namun, masalah dalam pengembangan mesin GE9X, yang notabene akan menjadi mesin jet komersial terbesar di dunia, membuat jadwal molor dari yang sudah ditetapkan. Pada akhirnya, masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik menjelang pergantian tahun, yang ditandai dengan pemasangan proses instalasi kelistrikan pada pesawat.

Pada bulan September 2019, masalah lainnya juga sempat terjadi. Kala itu, pintu kargo saat pesawat menjalani uji statik Boeing 777X “meledak” selama uji tegangan darat. Badan pesawat mengalami kerusakan tekanan tinggi tepat saat mendekati tes terberat yang harus dilewati untuk mendapatkan sertifikasi mesin jet.

Atas insiden tersebut, dua bulan yang lalu, perusahaan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rencana penggunaan robot otomatis dalam proses perakitan pesawa dan menyerahkan proses perakitan kepada manusia seluruhnya, guna menghindari kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Walaupun masih jauh dari sempurna, Boeing mengatakan sejauh ini sudah ada pesanan dari delapan maskapai, di antaranya British Airways, Cathay Pacific, Emirates, Lufthansa, dan Singapore Airlines. Jika segalanya berjalan dengan lancar, 777X diperkirakan akan siap mengudara secara masif pada tahun 2021.

Baca juga: Boeing ‘Buang’ Teknologi Robotika di Jalur Produksi Varian 777 dan 777X

Tetapi sebelum hal tersebut benar-benar terwujud, Boeing terlebih dahulu harus melewati berbagai tes untuk mendapatkan sertifikasi dari otoritas penerbangan di seluruh dunia, tak terkecuali di Amerika (FAA). Pasalnya, fitur folding wingtip pada pesawat diakui Boeing masih sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Bila folding wingtip melipat karena pilot atau awak kabin lupa untuk saling mengingatkan satu sama lain, itu bisa berdampak buruk saat dalam penerbangan.

Kerentanan tersebut pun membuat Federal Aviation Administration (FAA) atau regulator penerbangan sipil di Amerika menetapkan 10 syarat untuk membuat sayap berada pada posisi yang seharusnya. 10 syarat atau mekanisme tersebut diharapkan dapat memperkecil peluang sayap tetap berada pada posisi ‘terlipat’ sebelum tinggal landas.

Leave a Reply