Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an

Douglas DC-8 Garuda Indonesia di Bandar Udara Paris-Le Bourget tahun 1974

Satu era dengan Boeing 707, McDonnell Douglas Aircraft juga merilis pesawat penumpang jarak jauh dengan empat mesin Douglas DC-8. Desainnya pun tak berbeda jauh, bahkan kedua pesawat ini termasuk kelas narrow body, alias pesawat dengan satu lorong. Bila Garuda Indonesia tak lama mengoperasikan Boeing 707, maka DC-8 dioperasikan lumayan lama oleh maskapai plat merah ini, sebanyak 11 unit Douglas DC-8 tercatat pernah memperkuat Garuda Indonesia untuk melayani penerbangan ke Eropa dan Asia Timur.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia – Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Disarikan KabarPenumpang.com dari situs planespotters.net, disebutkan ada 11 unit DC-8 dalam berbagai seri yang dioperasikan Garuda Indonesia pada dekade 60 sampai 70-an. Unit pertama yang datang adalah Douglas DC-8 50 dengan nomer PK-GJD, pesawat yang tiba dengan logo Garuda Klasik ini diterima oleh Garuda Indonesia pada Juli 1966. Pesawat DC-8 pertama ini diberinama “Siliwangi.” Sedangkan unit terakhir yang diserahkan dilangsungkan pada tahun 1974.

Dirunut dari sejarah pembuatannya, DC-8 terbang perdana pada 30 Mei 1958. Sebagai maskapai pengguna pertamanya adalah United Airlines dan Delta Air Lines. Rentang produksi DC-8 berlangsung sejak 1958 sampai 1972, McDonnell Douglas Aircraft totalnya telah memproduksi 556 unit DC-8. Populasinya memah sangat jauh dibanding Boeing 707 yang berhasil diproduksi lebih dari seribu unit.

DC-8 PK-GJD Garuda Indonesia masih dengan logo klasik, tampak pesawat di Bandara Kai Tak, Hong Kong pada tahun 1967.

Penciptaan DC-8 terkait langsung dengan Boeing 707, Douglas terpacu untuk mengembangkan sebuah pesawat komersial bertenaga jet-nya sendiri karena takut kehilangan posisi pasar. Dimulai dengan sebuah Crash Program, Douglas berhasil menerbangkan DC-8 tiga tahun setelah program dimulai. Walau dari luar tampak sama dengan Boeing 707 dengan sebuah sayap terpasang-rendah tertekuk ke belakang dan empat mesin turbojet, DC-8 dilengkapi dengan inovasinya sendiri, termasuk fitur servisabilitas dan reliabilitas canggih. Model produksi awal semuanya mempunyai dimensi dan berat similar, tetapi berbeda dalam pemasangan mesin, membuat keuntungan untuk pengembangan secara cepat dalam teknik propulsi. Sebagai pesawat penumpang jarak jauh, DC-8 dapat menjelajah sejauh 3.445 km dengan kecepatan jelajah 967 km per jam.

DC-8 dan Soekarno
Meski saat itu Indonesia belum memiliki pesawat kepresidenan, tapi pada tahun 1959, Presiden RI Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet. Saat itu, pemerintah RI menyewa pesawat DC-8 dari maskapai Pan American World Airways (PanAm) AS. Kedatangan Soekarno dengan pesawat buatan AS ke Moskow, Rusia sempat menjadi permasalahan dan isu yang hangat, namun Soekarno tetap pada pendirian untuk terbang ke Uni Soviet dengan DC-8.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

DC-8 dan Kisah Pilu Jemaah Haji
Dalam catatan sejarah, ada dua musibah yang terkait DC-8 dan jemaah Haji Indonesia. Musibah pertama terjadi pada 4 Desember 1974, yakni pesawat MartinAir DC-8 yang disewa untuk jemaah haji Indonesia dari embarkasi Surabaya menuju Saudi Arabia. Pesawat buatan tahun 1968 milik Matin Air itu gagal mendarat di Bandara Badaranaike Kolombo dan jatuh di Maskeliya, Srilanka. Keperluan mendarat di Kolombo adalah untuk melakukan pengisian bahan bakar.

Dalam musibah penerbangan 138 tersebut, sebanyak 182 jamaah haji, tiga pramugari dan delapan awak pesawat dinyatakan tewas dan tidak bisa lagi dikenali. Sementara musibah kedua terjadi pada 15 November 1978, sebuah pesawat DC-8 milik Islandia yang disewa Garuda Indonesia untuk membawa jemaah haji asal Kalimantan Selatan dari Jeddah menuju Surabaya, gagal mendarat di Bandara Kolombo. Tragedi tersebut menewaskan 174 jamaah Haji, sedangkan 75 jamaah berhasil selamat. Sebuah keajaiban, ada 46 jamaah yang tak cedera sedikit pun.

Semenjak kedua musibah tersebut, Kolombo tak dijadikan lagi lokasi untuk transit pengisian bahan bakar, di era selanjutnya Garuda Indonesia mengadopsi pesawat jarak jauh dengan kemampuan jelakah lebih tinggi, seperti DC-10 dan Boeing 747-200.