Dukung Kesetaraan Gender, Lufthansa Group Tak Lagi Sebut “Ladies and Gentlemen”

0
Ilustrasi hub Lufthansa di sebuah bandara. Sumber: Dezeen

Maskapai Lufthansa, Eurowings, dan Brussels Airlines, yang seluruhnya tergabung dalam Lufthansa Group, kini tak lagi menyapa penumpang dengan sapaan “ladies and gentlemen”. Sebagai gantinya, maskapai tersebut menyapa para penumpang, baik saat on board maupun di bandara, dengan sebutan yang lebih ramah gender seperti “tamu” atau “tamu yang terhormat” semudah dan se-netral sebutan “selamat pagi atau malam”.

Baca juga: Pro Kesetaraan Gender, Japan Airlines Tak Lagi Sebut “Bapak-Ibu”

“Keberagaman dan kesetaraan adalah nilai inti bagi perusahaan kami dan budaya perusahaan kami,” kata Lufthansa Group dalam sebuah pernyataan.

“Mulai sekarang, kami ingin mengekspresikan sikap ini dalam bahasa kami juga – dan menunjukkan bahwa keragaman bukan hanya ungkapan, tetapi kenyataan yang hidup,” tambahnya, seperti dikutip dari CNN International.

Di tempat terpisah, juru bicara Lufthansa, Anja Stenger, pernah buka-bukaan ke radio Deutsche Welle bahwa “Keragaman bukan hanya ungkapan kosong, tetapi merupakan kenyataan bagi Lufthansa. Mulai sekarang, kami juga ingin mengungkapkan sikap ini dalam bahasa keseharian kami.”

View this post on Instagram

A post shared by Lufthansa (@lufthansa)

Sebelum mulai diterapkan Juli ini, sejak Mei lalu Lufthansa Group sudah mensosialisasikan sebutan ramah gender atau netral gender ini kepada para pramugari atau kru pesawat. Barulah pada Juni lalu, sapaan ramah gender atau pro kesetaraan gender mulai diresmikan di kalangan internal dan terikat dalam kontrak baru perusahaan.

“Kami tidak melarang memanggil tamu kami sebagai ‘Dear Sir or Madam’. Tujuan kami adalah untuk menyambut semua orang di atas pesawat secara setara,” kata Lufthansa saat pertama kali mensosialisasikan sapaan ramah gender ke kalangan internal.

Dengan tidak lagi menyebut “ladies and gentlemen” dan mengubahnya menjadi lebih pro kesetaraan gender atau ramah gender, Lufthansa Group resmi mengikuti maskapai besar lainnya, seperti Air Canada, EasyJet, dan Japan Airllines (JAL).

Isu kesetaraan gender di dunia penerbangan, dalam kaitannya dengan sapaan maskapai kepada penumpang, pertama kali disuarakan oleh Air Canada pada tahun 2019 silam.

Ketika itu, maskapai tersebut mengganti sapaan “ladies and gentlemen” atau “Ibu-bapak” menjadi salam ramah gender, seperti “selamat pagi” dan “selamat malam”. Langkah itu kemudian diikuti oleh EasyJet, maskapai LCC asal Inggris, tak lama berselang.

Terakhir, pada September tahun 2020, Japan Airlines turut mengkampanyekan pro kesetaraan gender dalam penerbangan. Maskapai nasional Jepang itu mengganti frasa “ladies and gentlemen” atau “Ibu-bapak” menjadi salam ramah gender, seperti “selamat pagi” dan “selamat malam”.

Sapaan ramah gender itu resmi diaplikasikan di seluruh penerbangan JAL, baik di bandara maupun saat on board, mulai Oktober 2020.

Dengan keputusan tersebut, JAL didapuk menjadi maskapai besar pertama di Jepang yang pro kesetaraan gender. Bahkan, dalam skala lebih luas, JAL merupakan maskapai pertama di Asia yang menerapkan kebijakan ramah gender atau kebijakan mendukung kesetaraan gender.

Baca juga: Komunitas LGBTI: Pelatihan Petugas Bandara Akan Mengembalikan Hak Transgender

Berbeda dengan JAL, Lufthansa Group baru sebatas sapaan “ladies and gentlemen” saja, tidak lebih. Padahal, isu kesetaraan gender juga terkait erat dengan busana pramugari. Selama ini, pramugari wanita diwajibkan mengenakan rok. JAL sudah membebaskannya dan Lufthansa Group belum.

Laporan The Washington Post Juni lalu, Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) sudah mulai mengintervensi terkait kesetaraan gender. Tetapi belum merambah ke airlines melainkan penerbangan secara umum, yaitu dengan mengganti frasa “airman” and “unmanned” menjadi “aviator” and “uncrewed” yang lebih ramah gender.