Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

0
Ilustrasi bird strike. Foto: Istimewa

Burung besi (pesawat terbang) meskipun berukuran jauh lebih besar dan jauh lebih berat, kurang lebih berbobot 40.000 kg, kerap dibuat repot dengan kawanan burung berbobot hanya 2 kg. Salah satu pelopor penerbangan, Cal Rodgers, adalah orang pertama yang mati karena bird strike.

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Pada tahun 1912, pesawatnya bertabrakan dengan burung camar di Long Beach, California yang menyebabkan masalah besar pada pesawatnya. Pesawat Rodgers jatuh dan ia pun tenggelam. Dalam catatan International Bird Strike Committee, sekitar $1,2 miliar setiap tahun digelontorkan maskapai untuk memperbaiki pesawat akibat bird strike.

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Begitu juga menjelang landing. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Selain itu, Administrasi Penerbangan Federal AS atau FAA juga memperkirakan bahwa penerbangan di AS mengalami kerusakan sekitar $400 juta atau Rp5,4 triliun setiap tahun akibat serangan burung dan lebih dari 200 korban tewas sejak 1988.

Meskipun kuantitas tabrakan burung dengan pesawat masih sangat debatable (ada yang mengkategorikan masih tergolong tak terlalu sering terjadi dan sebaliknya), namun faktanya, antara 1990 hingga 2015 ada 160.894 insiden tabrakan dengan burung di AS. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,25 persen yang mengakibatkan kecelakaan.

Dalam upaya menemukan formula yang tepat agar mesin tetap dalam keadaan prima saat terjadi bird strike, rangkaian tes ekstrem untuk memastikan pesawat aman pun dilakukan. Tak terhitung berapa banyak burung mati yang dilemparkan ke dalam mesin. Tak hanya itu, simulasi serangan bird strike dari arah depan juga dilakukan. Hal itu guna mengurangi potensi bahaya dengan kerusakan pada jendela pesawat akibat bird strike.

Dilansir skybrary.aero, di antara masalah yang dihasilkan saat terjadinya bird strike adalah speed of impact atau tingginya kecepatan sebelum terjadi benturan. Secara ilmiah, hal itu bisa digambarkan sebagai massa=kecepatan. Jadi, tingkat kerusakan bird strike sangat sebanding dengan kecepatan yang sedang ditempuh pesawat.

Berangkat dari asumsi tersebut, ilmuan pun berlomba untuk mendesain pesawat serta mesin agar lebih kokoh dalam mengantisipasi terjadinya bird strike. Selain itu, ilmuan juga menyematkan asumsi tambahan, yakni massa=berat. Dalam kegunaan sehari-hari biasanya disinonimkan dengan berat. Namun menurut pemahaman ilmiah modern, berat suatu objek diakibatkan oleh interaksi massa dengan medan gravitasi.

Asumsi tersebut sangat diperlukan mengingat kerusakan struktural yang diakibatkan bird strike juga sebanding dengan efek tabrakan (berat) yang dihasilkan.

Dengan menggabungkan asumsi massa=kecepatan dan massa=berat, maka, ilmuan dapat mengasumsikan, bila sebuah angsa seberat 6,8 kg yang ditabrak pesawat dengan kecepatan 518 km per jam, maka sama saja pesawat menabrak FOD (Foreign Object Damage) seberat 32 ton.

Baca juga: Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa Lahirkan Warisan Penting di Dunia Penerbangan

Fakta tersebut tentu sangat mengerikan, mengingat tempat paling sering terjadinya bird strike adalah bandara, yakni saat pesawat turun maupun lepas landas. Sebab, di kedua momen itu, pesawat biasanya mengeluarkan tenaga maksimum untuk memuluskan proses landing dan take off.

Tergantung jenis pesawat, saat di kedua momen itu, khususnya saat lepas landas, pesawat bisa mencapai kecepatan hingga 950 km per jam. Jadi, kemungkinan pesawat menabrak beban seberat 32 ton bukan asumsi di angan-angan, melainkan ancaman nyata yang bisa menerjang sewaktu-waktu.

Leave a Reply