Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

0
Boeing 777-300ER milik Emirates. Sumber: The National

Maskapai Emirates dikabarkan akan segera membuka kembali rute Dubai-Auckland, salah satu dari daftar 10 penerbangan terpanjang (bisa juga disebut terlama) di dunia, pada Januari 2021 mendatang. Rute tersebut sebetulnya hanya menempati posisi ke-delapan dalam deretan 10 penerbangan terpanjang di dunia. Namun, pasca lockdown (pembatasan perjalanan) rute itu jadi yang terpanjang di dunia.

Baca juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia

Dikutip dari Simple Flying, alih-alih menggunakan pesawat andalan mereka, Airbus A380, maskapai yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, itu justru menggunakan pesawat 777-300ER. Tak ayal, menurut salah satu situs penerbangan terkemuka di dunia, Live And Lets Fly, penerbangan yang rencananya akan tersedia empat hari dalam sepekan itu berpeluang besar mencetak rekor penerbangan penumpang berjadwal reguler Boeing 777-300ER terpanjang di dunia.

Selama masa pandemi Corona sendiri, Emirates sebetulnya sudah menggunakan pesawat tersebut untuk melahap rute Dubai-Auckland. Hanya saja, penerbangan itu khusus kargo, dengan menempuh perjalanan sejauh 14.201 km non-stop; sedikit di bawah jangkauan maksimum pesawat diangka 14.490 km.

Oleh karenanya, tak mengherankan bila Emirates cukup percaya diri untuk menerbangkan Boeing 777-300ER untuk layanan penumpang berjadwal, sekalipun tingkat keterisian kursi ataupun kombinasi beban kargo dan penumpang harus dibatasi.

Akan tetapi, rute yang mulai diluncurkan Emirates pada 2016 lalu itu sebetulnya disebut masih terbuka opsi transit di Australia untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan ke Auckland, Selandia Baru. Hal tersebut bukan tak mungkin mengingat bila kursi penumpang penuh dan kargo tak bisa dibatasi, maskapai tak punya pilihan lain kecuali mendaratkan pesawat di Australia.

Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial

Dari kacamata bisnis, mungkin maskapai akan kehilangan penumpang yang menginginkan penerbangan langsung, tetapi, hal itu bisa terbalas dengan banyaknya penumpang yang ingin berkunjung ke Australia ataupun Dubai serta tipe pengunjung yang di masa pandemi lebih menginginkan penerbangan transit untuk melepas lelah. Lagi pula, penerbangan transit di masa pandemi lebih aman dari kemungkinan tertular virus Corona.

Belum lama ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menerbitkan hasil studi mencengangkan. Dari analisis data penerbangan rute Hanoi-London pada bulan Maret lalu, ditemukan setidaknya 12 penumpang tertular Covid-19 dari seorang penumpang first class. Lewat data tersebut, CDC menduga bahwa penerbangan jarak jauh lebih berpotensi menularkan virus Corona melalui airborne, mengingat jarak antar kursi tak terlalu jauh.

Leave a Reply