Empat Keunggulan Bandara Terapung, Nomor Tiga Sangat Menggiurkan

0
Bandara terapung

Keterbatasan lahan jadi tantangan pelaku industri penerbangan global dalam menambah jumlah bandara, mengingat, di masa mendatang penerbangan akan semakin diminati warga. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) telah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037.

Baca juga: Konsep Bandara Terapung, Mungkinkah Terlaksana?

Sejalan dengan itu, jumlah penerbangan juga akan meningkat sekitar 3,5 persen per tahun. Bila saat ini saja ada 40,3 juta penerbangan, akan ada berapa banyak penerbangan pada tahun 2037 serta tahun-tahun selanjutnya? Saat hal itu terjadi, tentu bandara yang ada tak lagi mampu menampung lalu lintas pesawat.

Oleh karenanya, dibutuhkan inovasi untuk membangun bandara baru di tengah keterbatasan lahan. Pada tahun 1995, Asosiasi Riset Teknologi Jepang coba menjawab tantangan tersebut dengan merilis konsep Mega Float, sebuah bandara terapung pertama di dunia. Bandara apung tersebut pun akhirnya benar-benar terealisasi dengan panjang runway mencapai 1.000 meter serta lebar 60 meter. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya operasional bandara terapung pertama di dunia itu harus dihentikan.

Saat ini, setidaknya ada lima bandara terapung di dunia, mulai dari Bandara Internasional Kai Tak di Hong Kong, Bandara Osaka-Kansai, Bandara Nagoya-Centrair, Bandara terapung Khyusu, dan Bandara Apung Kobe di Jepang, Bandara Apung London Brittania Airport di Inggris, dan Bandara Ahmad Yani, Semarang, yang juga jadi bandara terapung pertama di Indonesia.

Selain menjadi jawaban atas keterbatasan lahan, bandara apung juga memiliki banyak keunggulan. Agar lebih jelas, berikut KabarPenumpang.com rangkum dari laman wonderfulengineering.com empat keunggulan bandara apung.

1. Pusat penelitian
Selain menjadi pusat kegiatan ekonomi, bandara terapung dinilai bakal menjadi pusat penelitian energi terbarukan serta akuakultur (pusat penangkaran hewan laut). Tak hanya itu, bandara apung juga mendorong penggunaan kapal pesiar dan pesawat amfibi lebih banyak dari biasanya.

2. Pusat penelitian oseanografi
Oseanografi (biasa juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan) adalah cabang ilmu bumi yang mempelajari samudera atau lautan. Bandara terapung dinilai bakal jadi wadah yang cocok untuk menjadi pusat penelitian terkait hal itu.

Baca juga: Bandara Terapung, Dari Sebuah Konsep Hingga Terwujud di Jepang dan Hong Kong

3. Pilihan energi alternatif lengkap
Di daratan, energi alternatif besar kemungkinan hanya datang dari panas matahari. Namun, di bandara apung, pilhan energi alternatif untuk mendukung operasional bandara lebih beragam, mulai dari energi gelombang, energi matahari, serta koversi energi panas laut (yakni listrik yang dihasilkan dengan memanfaatkan perbedaan suhu antara kedalaman air) di bandara terapung ini.

4. Multiguna
Bandara apung dinilai bisa juga berfungsi sebagai pelabuhan, tentu dengan didukung infrastruktur tambahan. Selain itu, bandara apung juga hampir dapat dipastikan bakal menjadi salah satu tujuan rekreasi baru. Tak hanya itu, bila proses pembuatan bandara apung dilakukan secara disiplin, potensi masalah lingkungan, masalah keamanan, dan biaya juga dapat lebih efisien.

Leave a Reply