Fokus di Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Inilah Tantangan Operasional Drone Kargo Garuda Indonesia

0
Harbin BZK-005. Sumber: Wikipedia

Pertengahan semester kedua tahun ini bakal menjadi ujian penting bagi jasa layanan logsitik Garuda Indonesia, pasalnya maskapai plat merah itu akan mulai melakukan uji coba penggunaan drone kargo. Tidak tanggung-tanggung, drone kargo yang bakal didatangkan Garuda Indonesia adalah jenis mutakhir, bahkan lebih maju ketimbang yang dioperasikan TNI saat ini. Drone yang dimaksud adalah Harbin BZK-005 yang punya kualifikasi HALE (High Altitude Long Endurance).

Baca juga: ‘Belanja’ ke Cina, Garuda Indonesia Datangkan Drone Untuk Angkutan Kargo

Seperti telah diwartakan pada bulan April silam, proyeksi pengguna drone akan mengangkut kargo dari wilayah remote menuju kota-kota besar di pelosok negeri. “Nantinya kargo akan dibawa dari wilayah remote menuju kota besar dengan menggunakan drone ini, dan seterusnya (kargo) akan dipindahkan menuju pesawat yang lebih besar. Mungkin drone ini nantinya akan kita operasikan di Kalimantan atau Papua dan ditujukan sebagai pengumpan (feeder) saja,” ujar Ikhsan Rosan, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia.

Dan tiga bulan berselang, ada keterangan terbaru (6/7/2019) dari Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara yang menjelaskan bila titik fokus pengoperasian drone kargo nantinya akan ada di wilayah Papua, Sulawesi dan Maluku. Lebih khusus lagi, dalam keterangan tertulis Ari mengatakan bahwa Garuda Indonesia akan mendukung upaya peningkatan kualitas perekonomian nelayan (perikanan) di wilayah-wilayah tersebut.

“Sejalan dengan strategi nasional menuju Indonesia sebagai “Poros Maritim Dunia”, kehadiran teknologi drone kargo ini nantinya dapat secara signifikan mendukung upaya percepatan pengiriman komoditas kemaritiman di remote area sehingga kualitas dan kesegaran komoditas dapat menjadi lebih berdaya saing yang pada akhirnya dapat menstimulir kapasitas produksi nelayan lokal dengan cost logistik yang lebih kompetitif,” ujar Ari.

Ia menambahkan dengan teknologi drone kargo ini menjadikan produk komoditas kemaritiman nelayan lokal di wilayah terpencil dapat terhubung langsung dengan hub penerbangan nasional Garuda Indonesia yang memiliki akses langsung ke sejumlah negara pengimpor produk maritim nasional.

Untuk menunjang kampanye di atas, saat ini Garuda Indonesia berencana untuk bekerja sama dengan satu perusahaan dalam negeri sebagai manufacturer atau assembly point selama proses produksi UAV berlangsung. Proyeksi Garuda Indonesia lumayan tinggi untuk bisnis kargo gaya baru ini, dimana Garuda berharap bisa mendatangkan 100 unit drone kargo hingga tahun 2024.

Baca juga: Dibanding Drone Kargo Garuda Indonesia, Kapasitas Payload Drone Feihong-98 Lebih Besar

Jenis drone Harbin BZK-005 dapat mengangkut beban angkutan kargo hingga mencapai 2,2 ton dengan jarak tempuh mencapai 1.200 kilometer di ketinggian 3.000 meter. Harga drone buatan Beihang UAS Technology ini kabarnya mencapai US$1 juta. Meski harga akuisisi drone lebih murah ketimbang pesawat awak konvensional, namun banyak pekerjaan rumah yang dipersiapkan Garuda Indonesia, mulai dari tarif angkut yang harus lebih murah, manajemen pemeliharan serta suku cadang, dan tentunya sistem kendali.

Drone akan dikendalikan dari fasilitas ground control station, dimana diperlukan kesiapan pilot yang terlatih dalam menerbangkan drone di medan pegunungan, akses transmisi ke drone juga harus diperhitungkan, terutama pada pengoperasian di wilayah Papua yang kemungkinan mengandalkan jalur NLoS (Non Light of Sight).