Gaduh Ramalan Cuaca BMKG Dinilai Tak Akurat, Begini Penjelasannya

0
Awan Cumulonimbus

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMGK) beberapa hari belakangan banyak disebut-sebut warganet di jagat media sosial Twitter. Mulanya, kegaduhan tersebut diawali oleh cuitan influencer sekaligus jurnalis senior, Karni Ilyas dan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sekaligus Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid.

Baca juga: Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara

Dengan total followers mencapai 3,9 juta yang dihasilkan dari keduanya, tak mengherankan bila cuitan keduanya mendorong BMKG menjadi trending topic. Cuitan dari kedua tokoh tersebut memang bernada sindiran keras terhadap prakiraan cuaca yang dalam beberapa hari terakhir dinilai meleset. Bahkan, Karni sempat membandingkan prakiraan cuaca BMKG dengan pawang hujan.

Seperti dilihat KabarPenumpang.com, cuitan Karni Ilyas menyoal prakiraan cuaca yang meleset baru-baru ini sebetulnya sudah dijelaskan dengan gamblang oleh BMKG. Melalui Kepala Humasnya, Akhmad Taufan Maulana, seperti dihimpun dari berbagai sumber, BMKG menyebut bahwa yang mereka lakukan sebetulnya sudah jelas dan terukur, sebagaimana mottonya, memberikan layanan yang prima, cepat, tepat, dan akurat.

Artinya, berbagai rilis yang diinformasikan ke publik berdasarkan pergerakan dan pertumbuhan awan, pergerakan angin, dan berbagai fenomena alam lainnya. Misalnya, dalam pengamatan BMKG, terdapat pergerakan angin dan awan dari Australia (Selatan) yang mengarah ke utara (melintasi Indonesia) dengan kecepatan dan besaran tertentu. Atas dasar itu, BMKG kemudian membuat perhitungan yang outputnya kemudian disampaikan ke publik.

Selanjutnya, bila sewaktu-waktu terdapat perubahan akibat fenomena alam, BMKG dengan segera akan memperbaharui informasi sebelumnya yang sudah disampaikan. Di sinilah, terkadang masyarakat melewati pembaharuan informasi yang dilakukan oleh BMKG. Masyarakat cenderung sudah menelan bulat-bulat informasi awal mengenai cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG beberapa waktu belakangan.

Hal itu pulalah yang terjadi dengan Karni Ilyas. Cuitannya yang mengatakan BMKG tidak memprediksi hujan ekstrem pada tanggal 1 Januari 2020 lalu mutlak terbantahkan. Seperti dilihat KabarPenumpang.com, rilis BMKG tertanggal, Senin, 23 Desember 201 dengan gamblang bahwa adanya faktor dinamika atmosfer skala regional dan lokal terkini serta adanya Monsun Asia yang menyebabkan peningkatan massa udara basah, terbentuknya pola konvergensi, perlambatan, dan belokan angin yang ujungnya menyebabkan pertumbuhan awan-awan hujan.

Atas dasar itu, kemudian BMKG menghimbau masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem yang mungkin akan terjadi pada natal dan tahun baru. Pada akhirnya, terjadilah huJan ekstrem tepat sebelum malam tahun baru hingga sore di hari berikutnya.

Demikian juga dengan prakiraan cuaca yang menyebut bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia akan diguyur hujan dalam sepekan ke depan, tepatnya pada tanggal 15-18 Januari 2020. Semua telah dilakukan dengan terukur berdasarkan data-data. Bila ada perkembangan cuaca, entah membatalkan, merevisi, atau menguatkan informasi sebelumnya, BMKG akan menginformasikannya kepada masyarakat.

Selain menimpa Karni Ilyas, kesalahan informasi terkait prakiraan cuaca atau cuaca ekstrem juga pernah menimpa Keduataan Besar (Kedubes) Amerika Serikat. Kala itu, pihak kedutaan mengeluarkan informasi terkait prakiraan cuaca untuk warga negaranya yang berada di Indonesia.

“Weather forecasts indicate the greater Jakarta region will experience unusually heavy rainfall through January 12, 2020,” demikian bunyi ‘Weather Alert’ dari Kedubes AS untuk Indonesia, tertanggal 6 Januari 2020.

Menurut Kedubes AS, terdapat kesalahpahaman oleh beberapa masyarakat Indonesia dalam pengartian pengumuman yang ditulis dengan bahasa Inggris itu. Masyarakat banyak yang mengartikan, 12 Januari bakal terjadi hujan deras. Padahal bukan begitu maksud Kedubes AS. Dalam Twitter resmi Kedubes AS @usembassyjkt, mengunggah tulisan penjelasan.

“Mimin @usembassyjkt dibanjiri pertanyaan ttg peringatan cuaca utk warga negara AS di Indonesia. Nah, kata ‘through’ dan ‘on’ itu artinya berbeda loh! Seperti ‘sampai tanggal’ dan ‘pada’. Yuk, belajar #BahasaInggris dgn #MissUnderstanding! Hati-hati ya di musim hujan ini,” tulis @usembassyjkt, seperti dilihat KabarPenumpang.com, Jum’at (17/1).

Meskipun demikian, terlepas dari perubahan atmosfer dan fenomena alam yang membuat prakiraan cuaca BMKG terkesan ‘tak akurat’ di mata netizen, sebetulnya, pemerintah telah melakukan beberapa langkah antisipatif dalam merespon cuaca ekstrem tersebut. Tercatat, melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pemerintah telah menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Baca juga: Suhu Ekstrem Pada Musim Panas dan Dingin Ancam Pengoperasian Kereta di Inggris

Operasi TMC sendiri sudah dimulai sejak 3 Januari silam, memasuki hari ke-9, Sabtu lalu, BPPT mencatat telah dilakukan sebanyak 28 sorti dengan total jam terbang lebih dari 60 jam dan total bahan semai hampir 50 ton garam. Proses penyemaian awan bertujuan untuk memindahkan hujan ke Laut Jawa dan Selat Sunda sehingga mencegah hujan di wilayah Jabodetabek.

Kepala BPPT, Hammam Riza, mengklaim proses cloud seeding dapat mengurangi curah hujan sebesar 44 persen. BPPT juga dengan tegas menginformasikan bahwa pihaknya tidak bisa menghilangkan 100 persen potensi hujan. Selain karena fenomena alam, hujan sebetulnya juga dibutuhkan oleh warga.

Leave a Reply