Gandeng Belanda Lestarikan Kereta Jadul, PT KAI Optimis Museum Ambarawa Jadi Yang Terbesar di Asia

Sumber: istimewa

Sebagai salah satu sarana transportasi tertua yang hingga kini masih beroperasi di Indonesia, kereta api yang pada masa penjajahan Belanda dulu lebih banyak dipergunakan sebagai angkutan hasil bumi, kini sudah beralih fungsi menjadi angkutan penumpang yang melayani perjalanan baik dalam dan luar kota. Tanpa kita sadari, sistem perkeretaapian Belanda yang digunakan di Indonesia sudah mencapai 150 tahun, sudah sangat tua bukan?

Baca Juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia

Mengingat tumpukan cerita pahit dan manis yang menghiasi moda darat berjuluk ular besi ini, maka akan terasa sayang sekali jika itu semua tidak diabadikan. Maka dari itu, pada 6 Oktober 1976, didirikanlah Museum Kereta Api Ambarawa untuk melestarikan lokomotif uap yang pernah berjaya pada masanya. Tidak hanya memamerkan koleksi kelengkapan kereta api saja, lokomotif uap nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabrik Esslingen, serta B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG juga ditugaskan untuk mengantar wisatawan berkeliling.

Ada cerita unik dibalik B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG, dimana ini merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia, sedangkan dua lainnya berada di Swiss dan India. Pada awalnya, Museum Ambarawa ini merupakan sebuah stasiun yang dibangun pada 21 Mei 1873. Stasiun kereta yang awalnya bernama Willem I ini dibangun di atas lahan seluas 127.500 m². Nama tersebut diambil dari Raja Belanda pertama, Raja Willem I yang memerintah untuk membangun sebuah stasiun kereta baru yang memungkinkan pemerintah untuk mengangkut tentaranya ke Semarang.

Stasiun ini awalnya menjadi titik temu antara lebar sepur 1,435 mm (4 ft 8 1⁄2 in) ke arah Kedungjati dengan 1.067 mm (3 ft 6 in) ke arah Yogyakarta melalui Magelang. Hal ini masih bisa terlihat bahwa kedua sisinya dibangun stasiun kereta untuk mengakomodasi ukuran lebar sepur yang berbeda. Museum Ambarawa ini mengoleksi 21 lokomotif uap. Terdapat juga 3 lokomotif kuno yang hingga kini masih dioperasikan, sebagaimana yang sudah dijabarkan di atas. Koleksi yang lain dari museum adalah telepon antik, peralatan telegraf Morse, bel antik, dan beberapa perabotan antik.

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (17/10/2017), dalam delapan tahun terakhir, Perkeretaapian Indonesia telah meniupkan kembali nafas kehidupan baru kepada jalur kereta dan kereta api jaman dulu yang mereka punya. Tidak berjalan sendiri, PT KAI menggaet Nederlands Smalspoor Museum dari Belanda mulai mempromosikan Museum Ambarawa ke Belanda.

Baca Juga: NIS 107, Jejak Lokomotif Tertua di Indonesia Yang Terlupakan

Dihimpun dari sumber lain, Vice Production Conservation, Maintanance, and Architecture Design, PT Kereta Api Indonesia kala itu, Ella Ubaidi mengatakan bentuk kerjasama yaitu saling mempromosikan museum antarnegara. “Promosi bersama, museum PT KAI akan dipromosikan di Belanda nanti bisa dapat banyak tamu segmen Eropa. Nanti promosi museum mereka di kita,” kata Ella mengutip detik.com, 17 Oktober 2014.

Ella juga menegaskan kemungkinan museum KA Ambarawa akan menjadi museum kereta api terbesar, terlebih lagi jika rel dari Semarang-Magelang sudah selesai direstorasi semuanya. “Insya Allah jadi museum KA terbesar di Asia bahkan bisa di dunia. Jalan rel dari Semarang ke Magelang akan direstorasi. Bisa dipakai tidak hanya KA umum, tapi bisa dalam kemasan KA wisata.” Tutup Ella.