‘Ganti Persneling’, Uber Coba Peruntungan Jajal Bisnis Taksi di Jepang

Sumber: Asia.Nikkei.com

Demi untuk ‘menjajah’ kembali negara yang telah melarang pengoperasiannya, Uber Technologies meluncurkan fitur cab-hailing di Jepang pada Kamis (6/9/2018) kemarin. Dalam hal ini, perusahaan yang berbasis di Negeri Paman Sam ini berkolaborasi dengan Fuji Taxi Group yang berbasis di Nagoya. Sebelum memutuskan untuk bekerja sama, Uber telah terlebih dahulu menguji coba layanan ini di Pulau Awaji, Prefektur Hyogo, di mana opsi transportasi lokal di sana masih terbatas.

Baca Juga: Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (7/9/2018), Uber sendiri terkenal dengan platform ride-sharingnya, dimana mereka mempekerjakan para pemilik mobil sebagai pengemudi yang akan mengantar jemput penumpang – namun layanan tersebut ditolak di Jepang karena berdampak pada kemacetan yang semakin memerah.

“Uber berusaha untuk mendorong inovasi pada industri taksi dengan menggunakan teknologi,” ujar General Manager Uber Jepang, Tom White. Ini merupakan langkah lanjutan yang ditempuh Uber pasca jatuhnya kedigdayaan perusahaan tersebut pada tahun 2017 silam. Oper persneling ke pasar taksi, tidak tanggung-tanggung, Uber langsung mengarah Jepang yang diketahui sebagai salah satu negara yang memiliki pasar taksi terbesar di dunia.

Selain itu, pertumbuhan sektor pariwisata di Jepang akan berdampak pada meningkatnya jumlah wisatawan – baik asing maupun mancanegara di Negeri Sakura. Maka besar harapan Uber untuk memperlebar sayap bisnisnya di kota-kota besar di Jepang, seperti Tokyo. “Semakin besar kemungkinan wisatawan datang dan menggunakan taksi yang kami sediakan,” tandas Tom.

Kerja sama yang dilakukan antara pihak Uber dengan Fuji Taxi Group ini ditandai dengan hadirnya 350 dari 550 taksi di aplikasi Uber itu sendiri. “Untuk merengkuh kata sepakat dengan pihak Fuji Taxi bukanlah perkara yang mudah, namun kami menawarkan biaya penggunaan sistem yang lebih tinggi daripada perusahaan taksi yang lain,” terang Tom.

Baca Juga: Ride Sharing Masa Depan Bakal Seperti Layanan dalam Penerbangan

Namun Uber bukanlah satu-satunya perusahaan yang menawarkan layanan ini. Sebelumnya, ada JapanTaxi yang juga menawarkan layanan ride-hailing berbasis mobile application. Dengan sokongan dana yang digelontorkan oleh Toyota Motor dan operator seluler NTT Docomo, JapanTaxi berhasil merebut perhatian publik dengan 5,5 juta penguduh aplikasi.

Belum lagi Sony yang bermitra dengan lima perusahaan taksi Jepang – termasuk Kokusai Motorcars, untuk menawarkan sistem antar jemput menggunakan taksi yang menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI), yang dijadwalkan untuk memulai operasi pada tahun fiskal 2018.