Hadapi Karantina Wilayah, Ini 8 Hal yang Bisa Anda Lakukan Bersama Anak di Rumah

0
Partisipasi orangtua untuk mengajak anak agar tetap bergerak saat karantina wilayah diberlakukan menjadi salah satu poin penting untuk menjaga mental anak. Foto: HRAUN/Getty Images

Pandemi virus corona yang menyebar dengan cepat memaksa banyak negara di dunia melakukan pembatasan perjalanan atau karantina wilayah. Masyarakat dihimbau untuk tak banyak beraktivitas di luar rumah, bahkan di beberapa negara masyarakat ‘dipaksa’ untuk tetap di rumah, bukan sekedar himbauan belaka.

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Akan tetapi, tetap di rumah tanpa diimbangi dengan aktivitas yang bermanfaat atau paling tidak menghibur, mungkin tidak terlalu baik secara psikologis. Profesor Psikologi dan Pakar Parenting di University of Melbourne, Prof Lea Waters AM mengatakan, isolasi diri setidaknya dapat menggangu tiga komponen penting terkait kesehatan mental. Mulai dari rasa otonomi (kebebasan), keterkaitan (rasa saling terhubung dengan orang lain), dan kompetensi (perasaan efektif).

Baik anak-anak maupun orang dewasa, keduanya sama-sama berpeluang untuk mengalami ketergangguan mental (sebagaimana disebutkan di atas) akibat jenuh di rumah. Namun, untuk menangkal rasa jenuh terus-menerus di rumah, Prof Lea Waters mempunyai kiat-kiat khusus untuk menanganinya. Dilansir dari theguardian.com, berikut delapan hal positif yang bisa mengisi waktu luang Anda saat work from home (WFH).

1. Menyusun Kontrak Keluarga
“Saya akan menyarankan pada awalnya keluarga duduk dan menyusun kontrak keluarga,” kata Waters. Maksudnya, ayah atau ibu mungkin bisa mengajak anak untuk berdiskusi ringan, sesuai dengan wawasan anak, apa yang menjadi tantangan terbesar selama di rumah dan apa kelebihan masing-masing untuk saling membantu satu sama lain selama proses karantina atau lockdown. Dengan begitu, selain terciptanya komunikasi, solusi juga muncul setelah diskusi tersebut.

2. Jujur
Penting bagi orangtua untuk mendengarkan dan berempati dengan kondisi anak-anak. Kata para ahli, berbicara jujur tentang situasi terkini dengan menyesuaikan usia anak dan memasukkannya ke dalam konteks adalah penting. Selain itu, bila anak-anak sudah tahu mengenai situasi yang sedang terjadi (pandemi Covid-19), orangtua harus bisa menenangkan dan menyerap rasa takut anak agar mereka kembali mendapatkan kontrol atas diri mereka. Misalnya, terhadap kebersihan pribadi.

3. Ajak Anak untuk Tetap Beraktivitas Seperti Biasa
Mempertahankan rutinitas sangat penting untuk mencegah anak-anak dan orang dewasa menjadi ‘gila’. Bagi anak-anak, pada umumnya, sekolah tetap memberikan berbagai tugas untuk anak-anak mereka. Oleh karenanya, penting bagi para orangtua untuk tetap mendorong anak mengerjakan tugas-tugas sebagaimana biasanya. Namun, jangan memaksa semuanya berjalan normal, sebab, situasi dan tempatnya pun berbeda, harus tetap disesuaikan dengan keadaan.

Misalnya, saat anak-anak telah bosan melakukan rutinitas, barulah ajak mereka untuk melakukan hal lain, seperti membantu membuat kue, mengeja, belajar bahasa asing, kelas dansa, berhitung, atau menonton tayangan yang mendidik, dengan tetap terus didampingi orangtua.

4. Tetap Bergerak
Tetap aktif secara fisik tentu menjadi salah satu hal penting yang harus tetap dilakukan sekalipun terus-menerus berada di dalam rumah. Dr Carly Johnco, seorang psikolog klinis di Universitas Macquarie Sydney, mengatakan, “Frustrasi dan kebosanan dapat muncul ketika anak-anak tidak mendapatkan kesempatan untuk aktif secara fisik.”

Oleh karenanya, penting untuk membuat anak-anak tetap bergerak. Caranya beragam. Bisa dengan ide-ide latihan yang kreatif, seperti menyiapkan rintangan atau games edukatif di halaman belakang, serta beberapa latihan mikro, seperti melompat-lompat, berlari menaiki tangga, atau bermain bola basket dan sepak bola.

5. Selesaikan Semua Pekerjaan
Merasa seolah-olah segala sesuatu telah dicapai selama masa isolasi akan menjadi penting bagi anak-anak dan orangtua. Itu bisa termasuk bekerja dari rumah, tugas sekolah atau memfokuskan kegiatan pada tugas-tugas, perbaikan atau tugas yang sudah lama dihindari atau tertunda. Selain itu, Waters menyarankan agar anak-anak didorong untuk membuat semacam“jurnal corona”, di mana mereka dapat mendokumentasikan seluruh pengalaman mereka. Bila dapat dimaksimalkan, mungkin hal itu akan menjadi salah satu aktivitas paling berwarna untuk mengisi kekosongan.

6. Saling Memberi Ruang
Saling memberi ruang, mungkin adalah perkara sulit bagi keluarga yang terbiasa dengan individualistis. Namun, bukan berarti tak bisa dilakukan. Mula-mula, cobalah untuk mulai memikirkan hal-hal yang bisa dilakukan secara individu dan bisa dilakukan secara bersama-sama atau keluarga. Selain itu, tak ada salahnya untuk menyulap rumah menjadi ruang-ruang khusus, seperti zona bermain, zona dongeng, menonton, dan sebagainya.

7. Tetap Terhubung
Komponen penting lainnya dari menjaga kondisi mental agar tetap baik adalah perasaan terhubung dengan orang lain. Kali ini, teknologi adalah penopang utamanya. Menghubungkan dan meluangkan waktu untuk teman-teman di media sosial atau melalui telepon akan sangat penting bagi orang dewasa. Selain itu, memastikan keberadaan kerabat atau orang terdekat di luar keluarga inti dalam keadaan baik-baik saja mungkin juga menjadi obat penawar untuk membuat hati menjadi lebih plong, utamanya di tengah pandemi corona seperti sekarang ini.

8. Belajar dari Pengalaman
Travis Diener, seorang pemain bola basket profesional, yang tinggal di Cremona, tepatnya di Lombardy, Italia, yang notabene masuk dalam zona merah Covid-19, mengatakan anak-anaknya sangat hebat selama masa isolasi seperti saat ini.

Baca juga: Jenuh Saat “Work From Home,” Atasi Kebosanan dengan Cari Ini!

Selain itu mereka juga telah menerima rutinitas baru. Hal itu tak lepas dari didikan para guru yang mendidik mereka untuk melakukan sesuatu yang positif bahkan dalam kondisi tak normal sekalipun. Oleh karenanya, ia sangat menikmati momen anak untuk bergelut dengan pengalamannya yang dalam tahap tertentu pun telah memberinya perspektif baru juga.

“Saya mendapatkan lebih banyak rasa hormat untuk guru dan kesabaran mereka, karena sulit untuk mengajar anak-anak. Itu baik untuk saya juga. Itu membantu saya untuk menjadi orangtua yang lebih baik,” ujarnya.

Leave a Reply