Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi

Sumber: theverge

Kementerian Pertanahan, Infrastuktur, dan Transportasi Jepang mulai melakukan uji coba terhadap salah satu bus otonom yang nantinya akan beroperasi khusus untuk pengiriman paket dan melayani perjalanan orang-orang lanjut usia.

Robot Shuttle, begitulah moda ini disebut, merupakan mahakarya dari sebuah perusahaan teknologi yang berfokus pada e-commerce dan entertain, DeNA. Adapun uji coba ini dilakukan di prefektur Tochigi yang terletak di pulau utama Jepang, Honshu.

Baca Juga: Waymo Pastikan Penumpang Mobil Otonom Aman Dengan Teknologi Ini

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman techwireasia.com (17/8/2017), Robot Shuttle mampu melakukan perjalanan di jalan-jalan pada umumnya. Walaupun uji coba ini dilakukan di jalur khusus yang bebas kendaraan, namun pada akhirnya bus ini akan beroperasi di jalur normal. Berbeda dengan sistem otonom yang dikembangkan oleh beberapa perusahaan raksasa di seluruh dunia, seperti Google, Apple, Land Rover, Nissan, dan lain sebagainya, eksperimen khusus ini sama sekali tidak dilengkapi dengan kursi pengemudi, sehingga DeNA sempat mengalami kendala terkait tidak memenuhinya persyaratan yang tercantum di Undang-Undang mengenai kehadiran kontrol manual (kursi pengemudi).

Layaknya kelengkapan yang ada di moda otonom lainnya, Robot Shuttle juga dilengkapi oleh real-time sensor serta kamera yang terpasang di kendaraan tersebut, sehingga memungkinkan bus ini untuk mengurangi kecepatannya dan berhenti jika ada objek yang terdeteksi oleh kamera pengawas yang dinilai menghalangi laju kendaraan. Untuk kecepatan moda ini sendiri, Anda tidak perlu khawatir karena DeNA sudah mengatur semuanya sehingga moda ini hanya melaju sekitar 10km/jam.

Baca Juga: Keluar dari Zona Nyaman, Apple Coba Peruntungan Rancang Bus Otonom

Rencananya, sekitar 13 uji coba lanjutan sudah dijadwalkan dalam beberapa bulan ke depan, dengan tujuan agar moda otonom ini dapat membuka layanan komersialnya pada tahun 2020 mendatang. Terlepas dari itu semua, diketahui MIT spin-off nuTonomy juga akan meluncurkan taksi otonom yang akan segera beroperasi di Singapura pada 2018 mendatang. Hingga saat ini, layanan taksi tersebut hanya boleh melakukan layanan sekitar 12km saja di salah satu distrik di daerah utara, namun tetap saja taksi ini seolah dijadikan pionir untuk merealisasikan transportasi otonom oleh negara-negara yang ingin segera mengadopsi sistem transportasi serba otomatis seperti Singapura.

Sementara itu, Richard Holman dari General Motor Amerika mengungkapkan perubahan prediksi tentang kedigdayaan mobil otonom di jalanan yang semula diprediksi akan mulai beroperasi pada 2035. Namun ia mengatakan bisa saja per tahun 2020, mobil-mobil otonom sudah mulai menggeser peran dari mobil konvensional.